Ketika Arsya bangun, suasana apartemen sudah terasa berbeda. Tidak ada lagi sisa bau apa pun, baik dari nasi goreng maupun aroma lain yang sebelumnya sempat membuatnya tidak nyaman. Jendela - jendela apartemen sudah terbuka lebar, tirai tersibak ke samping, membiarkan cahaya pagi masuk dengan bebas. Udara segar mengalir perlahan, membawa kesejukan yang membuat ruangan terasa lebih ringan. Tangannya terangkat, lalu ia melepaskan masker yang sejak tadi masih menempel di wajahnya. Masker itu kini terasa tidak perlu lagi. Arsya menarik napas dalam - dalam, lalu mengembuskannya pelan. Kali ini tidak ada reaksi mual. "Sayang …" panggilnya, suaranya masih serak karena baru bangun tidur. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tetapi tidak melihat Dede di kamar. Belum sempat ia bangkit sepenuhnya, pin

