Mesin mobil sudah menyala. Pendingin udara mulai berembus pelan. Area parkir siang itu cukup ramai, suara klakson bersahutan, tukang parkir berdiri di belakang mobil mereka memberi kode agar segera mundur. Tapi Arsya belum juga memindahkan perseneling mundur dan melepas rem, Ia justru menoleh ke arah Dede. Sejak keluar dari resto tadi, wajah Dede tidak lagi seramai saat mereka bercanda soal kuliah dan bisnis. Tatapannya lurus ke depan, bibirnya terkatup rapat. "Kenapa?" tanya Arsya sambil menatapnya, seatbelt juga belum dipasang. "Nggak kenapa-napa," jawab Dede cepat tanpa menoleh sama sekali. Arsya menatapnya beberapa detik. Ia sudah terlalu lama mengenal Dede untuk tidak bisa membedakan mana jawaban jujur dan mana jawaban yang sekadar formalitas. Raut wajah Dede dan jawabannya jela

