Menjelang makan siang, Arman menjemput Tanti dan Dede untuk mengajak mereka makan di luar. Matahari Medan sudah tepat di atas kepala, panasnya terasa menyengat meski mobil melaju dengan pendingin udara menyala penuh. Seperti biasa, Tanti mengambil alih suasana sejak awal perjalanan. Mulutnya tidak berhenti berbicara, meloncat dari satu topik ke topik lain, seolah takut kehabisan waktu bersama. Di dalam mobil itu, ada satu hal yang sama - sama mereka sepakati tanpa diucapkan, belum ada yang menyinggung soal salah paham Dede dengan Arsya. Nama itu seakan menjadi garis batas tak kasatmata. Maka obrolan pun berputar ke hal - hal ringan tentang makanan, tentang rencana liburan selanjutnya, tentang tempat makan favorit yang sudah lama tidak mereka datangi. Dede menyandarkan punggungnya ke kurs

