Arsya tidak langsung mengeksekusi semua rencananya. Ia tahu, terlalu cepat bisa membuat Dede kembali menarik diri. Maka keesokan harinya, setelah memastikan pikirannya cukup tenang dan jantungnya tidak lagi berdegup secepat hari sebelumnya, ia memilih satu langkah paling masuk akal. Menghubungi abangnya. Ia duduk di sofa apartemen, ponsel di tangan, menimbang sebentar sebelum akhirnya menekan nama Arman di layar. Nada sambung terdengar, satu kali, dua kali lalu wajah yang sangat ia kenal muncul di layar. Latar belakangnya langsung membuat Arsya menyipitkan mata. Ruang tengah rumah keluarga mereka di Medan. "Bang," sapa Arsya lebih dulu. "Apa?" jawab Arman santai, suaranya datar seperti biasa. "Lagi di rumah ya?" tanya Arsya, memastikan, padahal jawabannya sudah jelas terlihat dari s

