Ini malam terakhir Arsya ada di Medan. Kalimat itu berulang - ulang terngiang di kepala Dede sejak sore tadi. Rasanya seperti kalimat sederhana, tapi beratnya luar biasa. Besok pagi Arsya sudah harus berangkat. Tiket sudah di tangan. Koper juga sudah di tutup katanya. Semua sudah siap, kecuali hati mereka. Setelah makan malam berempat tadi, suasana sempat terasa ramai dan hangat dengan cerita masa lalu dan cerita masa depan. Mereka makan mulai pukul tujuh malam, judulnya makan - makan sebagai pajak jadian, sekaligus makan - makan perpisahan mereka berempat. Obrolan mengalir ringan, bercampur candaan Tanti yang tidak pernah ada habisnya dan celetukan Arsya yang selalu berhasil membuat Dede tersenyum meski hatinya sedang tidak baik - baik saja. Namun tetap saja, di sela tawa itu ada rasa y

