After The Blood

2198 Words

Ruangan apartemen itu masih bergetar oleh sisa adrenalin. Bau kaca pecah, debu dan sisa mesiu menempel di udara seperti kabut tak terlihat. Sherina duduk di sofa dengan napas yang belum sepenuhnya kembali normal, tubuhnya sedikit membungkuk, melindungi bayi mereka seakan dunia pun tak berhak menyentuh puteranya. Dominick berdiri tepat di depan jendela yang remuk. Angin malam Paris masuk membawa hawa dingin tajam, menusuk kulit tapi bahkan itu tidak cukup dingin untuk menenangkan darahnya yang masih mendidih. Pandangannya masih gelap. Suara detaknya masih ganas. Dia masih mencium aroma ketakutan sang istri, seolah itu racun yang mengikat semua uratnya. "Sebegitu pentingnya anak kita di dunia mereka, Dom...?" tanya Sherina lirih namun mantap. Ada keberanian baru dalam dirinya—keberania

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD