Zenia sebenarnya tidak sedang menunggu siapa pun pagi itu. Ia hanya membuka pintu karena bel rumah berbunyi, dan ia mengira mungkin kurir atau tetangga yang perlu sesuatu. Begitu pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Dua orang wanita berdiri di depan rumahnya. Keduanya rapi, wangi, dengan senyum yang terasa terlalu manis untuk ukuran pagi hari. Salah satunya memegang tas kecil di tangan, yang satunyba lagi berdiri sedikit di belakang, matanya berkeliling seolah menilai isi rumah di balik pintu. Zenia menatap mereka dengan wajah datar. “Ada perlu apa.” Salah satu wanita itu langsung menjawab, suaranya dibuat selembut mungkin. “Kami mau bertemu Matteo.” Zenia tidak langsung menjawab. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba naik ke dadanya. Ia menahan diri untuk tidak langsung bere

