Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara langkah Aidan yang berlari-lari kecil vmencari tasnya, tidak ada suara pintu kamar yang dibuka tergesa karena takut terlambat. Aidan masih berbaring di sofa ruang tengah, kakinya disangga bantal, lututnya yang kemarin terluka terbalut perban putih bersih. Zeniab duduk di kursi dekat sofa, matanya tidak lepas dari Aidan. Sejak subuh ia sudah bangun beberapa kali, memastikan perban Aidan tidak basah, memastikan anak itu tidak bergerak terlalu banyak saat tidur. Begitu Aidan membuka mata, Zenia langsung mendekat. “Sakitnya masih?” tanyanya lembut. Aidan menggeleng pelan. “Masih sedikit, Mama.” Zenia mengangguk, lalu mengusap rambut putranya. “Hari ini kamu di rumah saja. Tidak sekolah dulu.” Aidan tampak ragu. “Aku tidak ap

