Bab 147

588 Words

Zenia masih berdiri di depan jendela ketika bayangan kejadian pagi itu kembali terlintas di kepalbanya. Perutnya yang membesar membuatnya cepat lelah, tapi hatinya justru terasa lebih berat dari tubuhnya sendiri. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, meski rasa kesal belum benar-benar pergi. Matteo berjalan menjauh dari dua wanita itu dengan langkah cepat. Tangannya menggenggam erat buket bunga yang tadi ia beli dengan niat tulus. Mawar-mawar itu masih segar, merahnya menyala, seolah mengejek kegugupan yang kini menguasai dadanya. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mereka, apalagi di pagi hari ketika pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menebus kesalahan kecil yang kemarin sudah berubah jadi amukan besar. Di dalam rumah, Aidan duduk bersila di lantai ruang teng

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD