Bab 165

2085 Words

Zenia sudah bisa menebak ada sesuatu yang tidak beres bahkan sebelum pintu itu benar-benar terbuka. Bel berbunyi berkali-kali, terlalu cepat, terlalu tidak sabar. Ia yang sedang duduk di ruang tengah menarik napas dalam, lalu berdiri perlahan. Perutbnya terasa sedikit tidak nyaman, bukan karena mual, tapi karena firasat. Begitu pintu dibuka, dugaannya terbukti. Mariana berdiri di sana, bukan dengan tangan kosong, tapi dengan dua tas besar di sisi kanan kirinya. Rambutnya rapi, pakaiannya terlihat seperti orang yang benar-benar siap pindah. Dan yang paling membuat Zenia ingin langsung menutup pintu adalah senyum tipis di wajah wanita itu. “Aku mau tinggal di sini,” kata Mariana ringan, seolah itu permintaan paling wajar di dunia. Zenia menghela napas panjang. Satu kali. Dua kali. Lalu m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD