Bab 179

2907 Words

Pagi itu sekolah Aidan seperti biasa ramai oleh suara anak-anak yang berlarian di halaman. Seragam putih kecil dengan celana rapi membuat mereka terlihat sama—tanpa perbedaan latar belakang, tanpa label, tanpa beban dunia orang dewasa. Aidan termasuk anak yang paling mudah dikenali para guru. Bukan karena ia paling pintar. Bukan karena ia paling berisik. Tapi karena ia selalu sopan. Selalu mendengarkan. Selalu berkata “terima kasih” dengan tulus. Jika guru meminta berbaris, Aidan berdiri paling rapi. Jika teman kesulitan mengikat tali sepatu, ia membantu tanpa diminta. Jika ada yang terjatuh, ia yang pertama mengulurkan tangan. Bu Rina, wali kelasnya, sering berkata pada guru lain, “Anak itu hatinya lembut sekali.” Namun dunia orang dewasa tidak selalu seindah dunia anak-anak. Pa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD