Siang itu rumah terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada tamu dewasa. Bukan karena ada acara besar. Tapi karena ada suara tawa kecil lain selain Aidan. Gea. Untuk pertama kalinya, Gea datang bermain ke rumah mereka. Zenia yang menjemput Aidan sepulang sekolah tadi memang sudah mendengar rencana itu. “Ma, Gea mau lihat lego aku,” kata Aidan dengan wajah bersemu merah seperti biasa. Zenia hanya tersenyum. “Boleh. Tapi mainnya di ruang keluarga.” Dan sekarang, setelah makan siang selesai disiapkan, dua bocah enam tahun itu duduk berdampingan di ruang makan. Zenia sebenarnya hanya ingin memastikan mereka makan dengan benar. Namun pemandangan di depannya membuatnya berhenti di ambang pintu. Aidan duduk berhadapan dengan Gea. Di atas meja ada nasi, sayur, dan ayam

