Sabtu sore itu rumah Gea terlihat meriah bahkan dari ujung jalan. Balon warna pink dan putih terikat di pagar, pita kecil tergantung di teras, dan suara musik anak-anak terdengar sampai ke halaman depan. Aidan duduk di kursi belakang mobil dengan kotak hadiah di pangkuannya. Ia memeluknya erat seolah takut hilang di perjalanan. “Jangan penyok,” gumamnya sendiri. Zenia yang duduk di sampingnya tersenyum melihat keseriusan itu. Perutnya yang sudah membulat membuatnya duduk sedikit lebih tegak, tangan otomatis menopang bagian bawah perut. Matteo memarkir mobil dengan tenang. “Kita masuk, ya.” Aidan langsung membuka pintu sebelum benar-benar berhenti. “Pelan!” seru Zenia refleks. Namun anak itu sudah berdiri di depan pagar dengan mata berbinar. Begitu gerbang terbuka, Gea muncul dari

