Malam di kamar hotel itu masih tenang. Film di televisi terus berjalan dengan suara yang tidak terlalu kberas. Zenia masih bersandar di bahu Matteo, sementara lampu kamar sengaja dibiarkan redup agar tidak mengganggu tidur Aidan dan Althea. Di luar jendela, Tokyo terlihat seperti lautan cahaya yang tidak pernah benar-benar tidur. Namun ketenangan itu tidak berlangsung terlalu lama. Ponsel Matteo yang berada di atas meja kecil tiba-tiba bergetar pelan. Matteo menoleh. Ia langsung tahu bahwa nomor yang muncul di layar itu bukan nomor biasa. Itu salah satu anak buahnya di Indonesia. Matteo mengambil ponsel itu dengan tenang. Zenia sedikit mengangkat kepalanya dari bahu suaminya. “Ada telepon?” Matteo hanya mengangguk kecil. Ia berdiri dari sofa agar tidak mengganggu anak-anak yang

