Pagi itu udara terasa cerah dan ringan. Zenia berdiri di depan cermin ruang tamu sebentar sebelum berangkat. Perutnya yang semakin membesar membuat gerakannya lebih pelan, tapi wajahnya terlihat segar. Matteo sudah siap hsejak tadi, memegang kunci mobil sambil menunggu Aidan yang masih sibuk memastikan sesuatu di dalam tasnya. “Aidan, cepat,” panggil Matteo. “Iyaaa,” jawab suara kecil dari kamar. Beberapa detik kemudian Aidan muncul dengan tas sekolah tergantung rapi dan… satu benda kecil di tangannya. Zenia menyipitkan mata. “Itu apa?” Aidan buru-buru menyembunyikannya di belakang punggung. “Nggak apa-apa.” Matteo mengangkat alis. “Cokelat lagi?” Aidan menghela napas kecil. “Sedikit saja.” Zenia tertawa pelan. “Berapa kali seminggu kamu kasih cokelat?” Aidan tidak menjawab.

