Pukul tujuh malam lewat sedikit ketika Zenia kembali melirik jam di ponselnya. Layarnya menyahla, angka itu terasa seperti mengejek. Ia menghela napas, lalu berdecak kasar tanpa sadar. “Ke mana sih mereka,” gumamnya kesal. Tadi sore Matteo hanya berkata singkat kalau ia dan Aidan akan ke supermarket. Tidak ada nada mencurigakan, tidak ada raut aneh. Hanya belanja sebentar, begitu katanya. Tapi ini sudah hampir tiga jam. Supermarket mana yang membuat orang menghilang selama itu. Zenia bangkit dari sofa, berjalan pelan ke arah jendela depan. Tirai sedikit ia singkap. Jalanan di depan rumah masih sama, lampu-lampu sudah menyala, beberapa mobil lewat, tapi tidak ada mobil Matteo. Perutnya terasa tidak nyaman. Bukan mual seperti biasanya, lebih ke perasaan mengganjal. Pikirannya mulai ke ma

