Bab 144

719 Words

Zenia bersandar di sandaran sofa dengan kedua kaki diluruskan di atas bantal empuk. Ia menatap ke bawah, ke arah Aidan yang duduk bersila dengan wajah serius, kedua tangannya kecil tapi berusaha memijat betisnya seolah itu tugas yang sangat penting. Di sisi lain, Matteo duduk lebih dekat, tangannya kuat dan hangat, gerakannya pelan tapi mantap. Zenia tertawa kecil, suaranya ringan. “Aku sudah bilang, duduk saja. Nonton. Tidak perlu begini.” Aidan mendongak cepat. “Tidak. Mama capek.” Matteo hanya tersenyum tipis tanpa menghentikan tangannya. “Kami tidak keberatan.” Zenia menggeleng pelan. “Kalian ini keras kepala.” “Tapi mama senyum,” sahut Aidan polos. Kalimat itu membuat Zenia terdiam sejenak. Tawanya mereda, berganti senyum lembut. Ia menatap putranya dengan pandangan penuh sayan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD