Suasana di ruang keluarga itu menegang seperti kawat yang ditarik sampai batasnya. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya napas yang tertahan. Matteo berdiri beberapa langkah dari Jefri. Tatapannya tidak berkedip. Dingin. Penuh tekanan. Seolah satu langkah saja dari pria di depannya akan langsung dibalas tanpa ampun. Di sisi lain, Jefri masih menyeringai. Pisau di tangannya tidak turun. Justru semakin terangkat. Seolah ia menikmati ketegangan ini. Zenia berdiri di antara mereka, sedikit mundur, memeluk Althea yang menangis tanpa henti. Tubuhnya gemetar, tapi matanya tetap tertuju pada Matteo. Ia tahu. Jika Matteo bergerak… Semuanya akan meledak. "Aku sudah bilang…" Suara Matteo rendah, hampir seperti bisikan. "Jauhkan itu." Jefri tertawa kecil. "Kau pikir aku datang sej

