Bab 155

1114 Words

Tangisan Aidan terdengar nyaring dari luar pagar rumah, memecah sore yang tadinya tenang. Suaranya tidak seperti tangis biasa, bukan rengekan kecilb karena kesal, tapi tangis kencang yang penuh rasa sakit. Zenia yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri, jantungnya seakan berhenti satu detik. Matteo yang berada tidak jauh darinya juga langsung menoleh, wajahnya berubah tegang. “Itu Aidan,” kata Zenia dengan suara bergetar. Tanpa perlu bicara lagi, mereka berdua langsung berlari ke arah pintu depan. Zenia bahkan lupa mengenakan sandal, langkahnya terburu-buru, nafasnya tercekat oleh rasa panik yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Begitu pintu terbuka dan mereka sampai di gerbang, pemandangan di depan mata membuat Zenia seakan kehilangan tenaga di kakinya. Aidan terduduk di tanah, se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD