Bab 154

1035 Words

Aidan masih berdiri di depan Zenia, matanya menatap perut ibunya dengan rasa penasaran yang jelas. Perut Zenia memang belum terlalu besar, tapi sudagh cukup terlihat membulat, terutama kalau ia memakai baju yang agak pas di badan. Aidan memiringkan kepalanya, lalu mendekat sedikit. Ia mengulurkan satu jarinya, lalu dengan hati-hati menyoel perut Zenia pelan, seolah sedang mengetuk pintu yang tidak kelihatan. “Tok,” katanya sambil tersenyum sendiri. Zenia langsung menatap Aidan, antara kaget dan geli. “Aidan, pelan-pelan.” Aidan menoleh, lalu tertawa kecil. “Aku cuma mau lihat, beneran ada adik bayi atau tidak.” Matteo yang duduk di samping Zenia ikut tertawa kecil. “Memangnya kelihatan tidak ada?” Aidan menggeleng. “Perut Mama cuma kelihatan agak besar. Tapi aku tidak bisa lihat bayi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD