Aidan berlari kecil dari arah halaman depan rumah, langkahnya tergesa tapi hati-hati. Tangannya menggenggam sesuatu dengan penuh kebanggaan. Mawar merah itu sedikit lebih besar dari telapak tangannya, kelopaknya masih segar, dengan batang yang ia pegang kuat meski durinya membuat jarinya agak kaku. Zenia yang sedang duduk di sofa langsung menoleh ketika mendengar langkah kaki kecil itu. Ia belum sempat bertanya apa-apa saat Aidan sudah berdiri tepat di depannya, wajahnya serius tapi matanya berbinar. “Ini buat mama,” kata Aidan pelan sambil menyodorkan bunga mawar merah itu. “Aku petik di depan rumah.” Zenia terdiam sejenak. Dadanya terasa hangat. Tangannya terulur menerima bunga itu dengan hati-hati, seolah mawar tersebut sesuatu yang sangat berharga. “Buat mama?” ulang Zenia lembut.

