Zenia duduk di tepi karpet ruang keluarga, kakinya dilipat rapi, punggungnya bersandar pada sofa. Pagi itu rumah terasa tenang. Sinar matahari masuk lewat jendela besar, jatuh tepat di lantai tempat Aidan duduk tengkurap dengan kertas gambar dan krayon yang berserakan di sekelilingnya. Anak itu terlihat begitu serius, alisnya berkerut kecil, lidahnya sedikit menjulur saat tangannya bergerak perlahan. Zenia memperhatikan cukup lama tanpa menyela. Ada perasaan hangat yang perlahan mengisi dadahnya melihat putranya tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia baru membuka mulut setelah Aidan mengganti krayon beberapa kali dan menepuk-nepuk kertasnya sendiri, seolah memastikan sesuatu. “Aidan sedang menggambar apa?” tanya Zenia dengan suara lembut, tidak ingin merusak konsentrasi anaknya. Aidan ber

