Matteo menggenggam tangan Zenia erat saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang panjang dan dingin oleh pendingin ruangan. Langkah Zenia lebih pelan dari biasanya. Bukan karena lemah, tapi karena Matteo bersikeras menyesuaikan langkahnya dengan langkah istrinya. Sesekali Matteo melirik wajah Zenia, mhemastikan tidak ada tanda-tanda mual atau pusing seperti waktu itu. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Matteo pelan. Zenia mengangguk. “Tidak. Aku baik-baik saja. Cuma deg-degan sedikit.” Matteo tersenyum tipis. “Aku juga.” Mereka berhenti di depan ruang dokter kandungan. Pintu putih dengan tulisan nama dokter itu terlihat sederhana, tapi entah kenapa rasanya seperti pintu menuju kabar besar. Matteo mengusap ibu jari Zenia pelan, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan saat mencoba men

