Bab 149

1983 Words

Zenia tiba-tiba memejamkan mata, tangannya menekan perutnya pelan. Wajahnya yang tadi terlihabt tenang berubah pucat. Napasnya tertahan, lalu ia menggeleng kecil seperti sedang melawan sesuatu di dalam tubuhnya sendiri. “Matteo…” suaranya lirih, hampir tidak terdengar di tengah suara ombak. Matteo langsung menoleh. Begitu melihat wajah Zenia yang menegang, jantungnya serasa jatuh. Ia berdiri setengah jongkok di depan Zenia. “Kenapa. Kamu mual lagi?” Zenia mengangguk kecil, bibirnya bergetar. “Perutku… mual sekali.” Belum sempat Matteo berkata apa-apa, mata Zenia sudah berkaca-kaca. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Bukan hanya karena mual, tapi juga karena rasa tidak nyaman yang tiba-tiba datang dan membuat tubuhnya terasa lemah. “Aku mau pulang,” katanya dengan suara pecah. “Aku ti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD