Sore itu, sinar matahari menembus tirai jendela kamar, menciptakan bayangan lembut di lantai dan dinding. Udara hangat tapi tidak panas, hanya cukup untuk membuat Zenia duduk di tepi tempat tidurv sambil memeluk lututnya, menikmati suasana tenang. Di tangannya, secangkir teh hangat mengepul tipis, dan aroma herbalnya menyatu dengan hangatnya cahaya sore. Matteo baru saja selesai mandi. Rambutnya masih agak basah, dan aroma sabun serta parfum yang ia pakai masih samar di udara. Ia berdiri di depan cermin, menata kemeja, tapi tiba-tiba Zenia menatapnya dengan ekspresi agak aneh. “Matteo… bau…” kata Zenia tiba-tiba, suaranya pelan tapi jelas. Matteo menoleh, alis terangkat, bingung. “Bau? Aku baru saja mandi, Zen… apa maksudmu?” Zenia menarik napas panjang, tersenyum tipis, tapi matanya s

