“Mama,” teriak Tegar begitu masuk rumah seperti kebiasaannya selama ini. “Mas Tegar butuh sesuatu?” Tari muncul begitu mendengar suara anak bungsu majikannya itu. Tegar berdecak. Dia lupa jika ibunya sedang pergi menemani ayahnya. “Enggak. Sepi banget ya kalau gak ada Mama,” dia menghempaskan diri di sofa, kemudian mengeluarkan ponselnya. Di ujung sana ibunya tampak tersenyum lebar menyambut panggilan video putranya. “Kenapa? Kangen?” “Iya. Mama lama bener sih.” “Mama baru dua hari lho.” “Bisa enggak kerjaan Papa dipercepat. Atau Mama pulang duluan deh. Gak enak gak ada kalian.” Ayu tertawa di sana. “Beberapa hari lagi ya, Sayang. Kegiatan kuliahmu padat kan.” “Iya. Tapi kalau pulang gak ada Mama Papa tuh rasanya aneh.” “Apanya yang aneh?” Elang muncul di belakang Ayu. “Papa, ayo

