Azka dan Naufal sudah duduk di meja makan untuk sarapan bersama saat Tegar keluar dari kamar, sudah siap hendak ke kampus. “Kuliah sampai jam berapa?” tanya Azka pada adiknya. “Jam satu, habis itu aku mau ngerjain tugas.” “Bisa kamu sempatkan tengok Papa Ali?” Tegar tak menjawab. “Sudah hampir sepekan di rumah sakit pusat, dan belum ada perubahan signifikan,” ucap Azka prihatin. “Fal, kamu bisa temani Tegar ke rumah sakit?” Naufal mengangguk. “Sore aku bisa.” “Gar, bisa ya? Anggap aja kayak kamu nengok sodara atau kenalan Papa Mama,” pinta Azka. Tegar akhirnya mengangguk. Dia memang tak memiliki kenangan sebagai ayah dan anak dengan ayah biologisnya itu. Jika kemudian ia mau mencoba membuka diri, itu dilakukannya untuk kedua orang tua dan kakak sulungnya itu. Bagi Tegar, Azka adal

