Satu minggu dilalui Firdaus dalam ketegangan dan penyesalan mendalam. Aura yang nyaris mengalami kontraksi dini akibat syok atas ucapan Meisya, kini sudah stabil. Namun, dokter memperingatkan bahwa kondisi kehamilan Aura sangat rentan terhadap stres. Hal itu membuat Firdaus semakin protektif, bahkan ia tak pernah meninggalkan istrinya selama satu minggu terakhir ini. Membiarkan Keisya diantar jemput sopir agar ia bisa terus menjaga sang istri dan terus berada di sisinya. Kemarahan Firdaus selama seminggu ini memuai, membeku, lalu mengeras menjadi tekad baja. Ia telah menahan diri untuk tidak menghubungi Meisya, tapi Firdaus sadar jika ia tidak boleh membiarkan masalah ini menggantung. Ia harus mengakhirinya secara tuntas untuk melindungi Aura dan bayi mereka. Setelah memastikan Aura ter

