Bab 106. Beertahanlah!

1518 Words

Pagi itu, lorong rumah sakit yang bernuansa putih bersih terasa lebih dingin dari biasanya, tapi di balik dinginnya suhu ruangan, terselip nyala api harapan yang baru saja dinyalakan. Suara kursi roda berdecit halus beradu dengan lantai marmer rumah sakit. Firdaus mendorong kursi roda itu dengan langkah pelan dan hati-hati. Aura berusaha menyamankan posisi duduknya di kursi tersebut, ia tampak lebih segar meski gurat kelelahan belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. Kandungannya yang sudah memasuki minggu-minggu kritis membuatnya tak boleh terlalu banyak berjalan, apalagi setelah insiden kram perut minggu lalu yang nyaris membahayakan janinnya. Sebelum sampai ke tempat yang mereka tuju, Firdaus berhenti sejenak untuk membetulkan letak kardigan yang menyelimuti bahu Aura, memastikan sang i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD