"Pegangan ya, Ta." "Iya, Kak." Reta lingkarkan tangannya di perut Artha. "Kayak gini, kan?" Lalu menumpukan dagunya di bahu itu sambil cengengesan. Sebab Reta merasakan langsung dari betapa tegangnya respons Kak Artha sekarang. Yang Reta peluk dari belakang. Ehm. "Helmnya dipake." "Oh iya, lupa." Selagi Reta pakai helmnya, yang mana sudah duduk manis di jok penumpang motor Artha, mau otewe ke Bogor pagi ini juga. Artha pindahkan tas yang semula dia simpan di depan, kini Artha gendong di belakang. Jaga-jaga, takut Reta meluk dadakan kayak tadi lagi kan punggung Artha bisa kena sundul oleh perbukitan tinggi milik Areta. Sedangkan Reta, melihatnya, dia terkekeh sebab paham alasan mengapa tas itu ada di pertengahan mereka. "Sudah?" tanya Artha. "Udah, yuk gaskeun!" Reta pun berpega

