Ghina akhirnya kembali pulang ke rumah setelah beberapa hari tinggal dan menjalani terapi rumah sakit. "Aku merasa ada yang berbeda. Apa ini hanya sekadar firasatku saja, ya?" gumam wanita itu, berbisik pelan. Zalman mendapati kecurigaan yang Ghina miliki, tetapi tidak mampu berbuat banyak dan hanya diam. Sejak tadi, pria itu juga tidak berhenti menghela napas, mencoba untuk menetralkan emosi. Mengusir perasaan sesak dan debaran di jantungnya yang terus berpacu. "Mas, kenapa rumah kita begitu hening?" Kali ini, Ghina tidak lagi bicara seorang diri. Ia bertanya secara langsung pada Zalman, meminta penjelasan dari apa yang ditangkap tak beres olehnya. "Kita masuk dulu ke dalam, ya?" Zalman hanya membalas sesingkat itu, tidak memberi penjelasan apapun. Ghina hendak protes, namun ia men

