Paginya, Ghina terbangun saat sinar matahari diam-diam masuk lewat celah jendela. Bayang-bayang Zalman yang sedang fokus pada laptop di atas meja menarik perhatiannya. "Mas Zalman?" Yang dipanggil namanya cepat menoleh, "Sudah bangun, Sayang?" balasnya, buru-buru merapihkan beberapa lembar kertas yang tercecer dimana-mana. Ini mengingatkan Ghina dengan apa yang ia dengar semalam. "Mas sedang apa?" tanyanya, penasaran. Apa Zalman tidak tidur dan mengerjakan pekerjaan itu sampai pagi, seorang diri? "Ah, tidak ada. Hanya memeriksa sedikit pekerjaan yang dikirim Soraya," ujarnya santai. "Sekalian nunggu istri cantik saya bangun." Usai mengatakan itu, segera Zalman menutup laptop, menyimpan segala urusannya bagai tak pernah ada. Menyulap kegiatan sesaat yang lalu hanyalah iklan dihari-h

