Keheningan yang mencekam tiba-tiba menyergap seluruh sudut hutan jati Desa Ghadita. Angin yang tadinya berembus liar, menggoyang dahan-dahan tua dengan suara menderu, mendadak mati kutu. Suara jangkrik dan serangga malam yang biasanya saling bersahutan seolah terbungkam secara paksa oleh kehadiran sebuah kekuatan yang begitu purba, dingin, dan dominan. Revan masih mematung di tempatnya berdiri, jantungnya berdegup kencang hingga dentumannya terasa memenuhi gendang telinga. Tangannya yang dingin dan gemetar masih mencengkeram erat bahu Ayu yang halus, namun kini terasa kaku seperti pualam yang dialiri tegangan listrik ghaib yang siap meledak kapan saja. Ayu sama sekali tidak bergerak. Matanya yang merah berkilat menatap lurus ke depan, menembus pekatnya kegelapan di balik rumpun bambu petu

