Malam di pinggiran hutan Desa Ghadita benar-benar terasa tidak bersahabat. Udara di sekitar rumpun bambu petung itu mendadak menjadi sangat pengap dan panas. Bukan karena cuaca mau hujan, tapi karena aura tantrum dari Ratu Jin di samping Revan yang level emosinya sudah melampaui batas kewajaran manusia maupun jin. Revan berjalan dengan langkah gontai, senternya bergoyang-goyang tidak keruan, sementara di sebelahnya, Ayu melayang-layang dengan wajah yang ditekuk sampai-sampai dagunya hampir menempel ke d**a. "Aduhh, Revan! Panas! Gerah! Ini pasti gara-gara kamu habis bergumul dengan janda gatal itu ya? Aura manusiamu jadi bau busuk dan menular ke dasterku!" teriak Ayu sambil menarik-narik kerah daster batiknya dengan kasar. Suara kain itu merintih, hampir robek karena tarikan tangan ghaib

