23. Logika yang Sesat

1041 Kata

Beberapa saat setelah itu, suasana kamar menjadi sunyi. Aldo sudah menjauh. Tatapannya dingin. Jauh berbeda dari beberapa menit yang lalu. Lila yang setengah sadar akhirnya membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat. Namun sikap Aldo yang berubah membuatnya sedikit mengernyit. “Ada apa…?” gumamnya pelan. Aldo tidak menjawab. Hanya diam. Tatapannya membuat Lila perlahan tersadar. Dan dalam sekejap, potongan-potongan kejadian tadi mulai kembali ke ingatannya. Gerakan. Kata-kata. Dan... nama yang sempat terucap dari bibirnya. Gerald. Jantung Lila berdetak lebih cepat. Ia langsung menatap Aldo. Sekarang ia mengerti. Pantas saja pria itu bersikap seperti itu. Namun alih-alih panik… atau merasa bersalah karena menyebut nama pria lain, Lila justru tertawa kecil.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN