Lila berdiri di depan pintu ruang kerja Gerald. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk. Namun sebelum sempat melakukannya, ia mendengar suara dari dalam. Gerald. Dan Toni. Entah kenapa, langkahnya terhenti. Beberapa detik ia hanya berdiri di sana. Kemudian dengan hati-hati ia mengetuk pintu. Tidak ada sahutan. Lila mengerutkan dahi. Perlahan ia memutar gagang pintu dan membukanya sedikit. Hanya celah kecil. Dari sela pintu itu, ia melihat Gerald berdiri membelakangi meja kerjanya. Sementara Toni berdiri tidak jauh darinya. Suara Gerald terdengar jelas. Tenang. Dingin. “…dan kali ini, aku menginginkan sesuatu sebagai gantinya.” Jantung Lila langsung berdebar kencang. Tangannya refleks menutup pintu itu kembali. Cepat. Namun tetap pelan agar tidak menimbulkan suara. B

