8. Pernikahan yang Terasa Sendiri

1201 Kata
Gerald masih berdiri di balkon, angin malam menyentuh wajahnya yang tegang. Gelas minuman di tangannya tetap utuh, tidak setetes pun berkurang sejak tadi. Pikirannya tidak berada di tempat itu. Bayangannya kembali pada malam tadi. Pada perempuan yang sempat terbaring dalam pelukannya. Malam yang membuatnya begitu b*******h. Perempuan yang membuatnya lupa diri dan tidak bisa mengontrol Gerald menghela napas panjang. Ia tidak ingin mengingat terlalu jauh. Tidak ingin memikirkan detail-detail yang membuat dadanya terasa semakin sesak. Namun semakin ia berusaha menepisnya, semakin jelas bayangan itu kembali. Ririn yang setengah sadar. Ririn yang memanggil nama pria lain dengan suara pelan. Dan Ririn yang akhirnya tertidur dalam pelukannya tanpa tahu siapa pria yang berada di sampingnya. Rahang Gerald mengeras. Sekali. Ia sudah mendapatkannya sekali. Seharusnya itu cukup. Seharusnya itu sudah menjadi kemenangan yang ia inginkan sejak lama. Namun kenyataannya tidak demikian. Alih-alih merasa puas, Gerald justru merasa sesuatu dalam dirinya semakin menuntut lebih. Sekali… ternyata belum cukup. Ia ingin yang kedua kali. Dan kali ini berbeda. Kali ini Ririn harus tahu. Harus melihat dengan jelas siapa pria yang berada di depannya. Siapa pria yang telah menyentuh hidupnya dengan cara yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Gerald menutup mata sejenak. Ia tidak suka mengakui kenyataan itu, tetapi pikirannya semakin jelas menyusun satu rencana. Jika kesempatan tidak datang dengan sendirinya… maka ia akan menciptakannya. Dan kuncinya tetap sama. Aldo. Gerald tersenyum tipis, dingin. Ia sangat mengenal tipe pria seperti Aldo. Ambisius, tetapi rapuh. Ingin terlihat berhasil di depan dunia, namun sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan semuanya. Perusahaan Aldo sudah pernah hampir jatuh sekali. Dan Gerald tahu… perusahaan itu masih berdiri di atas fondasi yang rapuh. Sedikit tekanan saja… sedikit permainan yang tepat… Aldo pasti akan kembali membutuhkan dana. Membutuhkan bantuan. Dan saat hari itu tiba, Gerald akan berada di sana. Menunggu. Bukan lagi untuk sekadar transaksi bisnis. Melainkan untuk kesempatan kedua. Kesempatan di mana Ririn tidak lagi berada dalam keadaan setengah sadar. Kesempatan di mana perempuan itu akan melihat wajahnya dengan jelas. Dan menyadari satu hal yang tidak akan bisa ia ubah lagi, bahwa pria yang telah menyentuh hidupnya… adalah Gerald. --------- Sore berubah menjadi malam tanpa terasa. Lampu rumah sudah menyala sejak lama, tetapi pintu depan tetap tidak terbuka. Ririn masih duduk di meja makan. Di depannya, makanan yang tadi ia masak dengan penuh semangat sudah lama kehilangan hangatnya. Sup yang tadi mengepul kini hanya menyisakan lapisan tipis minyak di permukaan. Ikan goreng yang renyah kini mulai dingin dan keras. Ririn menoleh ke arah jam. Sudah lewat pukul delapan malam. "Aldo belum pulang..." gumamnya pelan. Ia sebenarnya sudah beberapa kali mengambil ponselnya. Jarinya sempat membuka kontak Aldo, tetapi selalu berhenti sebelum menekan tombol panggil. Ia takut mengganggu. Mungkin Aldo sedang sibuk. Ririn menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dengan hati-hati ia bangkit dari kursinya. Tubuhnya masih terasa tidak nyaman setiap bergerak. Rasa perih yang samar di bagian tubuhnya masih mengingatkan pada malam pertama mereka. Pipi Ririn memerah sedikit saat mengingatnya. Walaupun pagi tadi Aldo terlihat begitu dingin, Ririn tetap berusaha berpikir baik. Mungkin Aldo hanya canggung. Tidak semua pria pandai menunjukkan perasaan mereka. Ririn berjalan ke dapur, memanaskan kembali sup yang sudah dingin. Ia juga menghangatkan lauk yang lain. Setelah semuanya siap, ia kembali duduk di kursinya. Ia menunggu lagi. Namun kursi di seberangnya tetap kosong. Sunyi. Rumah baru mereka terasa terlalu besar untuk seorang diri. Jam kembali bergerak. Sembilan malam. Sepuluh malam. Akhirnya Ririn kembali mengambil ponselnya. Kali ini ia memberanikan diri mengirim pesan. "Mas, kamu pulang jam berapa? Aku sudah masak." Pesan itu terkirim. Ririn menunggu. Beberapa menit. Lima menit. Sepuluh menit. Namun layar ponselnya tetap sunyi. Tidak ada balasan. Perlahan mata Ririn kembali menatap meja makan. Makanan itu kini kembali dingin untuk kedua kalinya. Tangannya perlahan menyentuh mangkuk sup. Sudah tidak hangat lagi. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ini seharusnya masih masa bulan madu mereka. Ibunya Aldo bahkan berpesan dengan penuh harap agar mereka menikmati waktu bersama. Siapa tahu dengan begitu mereka segera memiliki anak. Namun malam ini, Ririn bahkan tidak tahu di mana suaminya berada. Ia menunduk pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, matanya terasa panas. Namun ia cepat-cepat mengusap sudut matanya dengan jari. "Tidak apa-apa," bisiknya pelan pada diri sendiri. "Mungkin Mas Aldo benar-benar sibuk." Ririn lalu berdiri. Dengan gerakan pelan ia mulai membereskan meja makan. Satu piring diangkat. Satu mangkuk dipindahkan. Satu demi satu makanan yang ia siapkan dengan penuh harapan tadi sore kini kembali masuk ke dalam kulkas. Rumah itu kembali sunyi. Ketika semuanya sudah rapi, Ririn berdiri sejenak di ruang makan. Matanya menatap pintu depan yang masih tertutup. Ia sempat berharap- mungkin detik berikutnya pintu itu akan terbuka. Namun sampai beberapa saat berlalu... pintu itu tetap diam. Akhirnya Ririn mematikan lampu ruang makan. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Ririn tidur sendirian di rumah barunya. Dengan hati yang perlahan belajar menerima bahwa tidak semua penantian selalu berakhir dengan seseorang yang pulang. -------- Jarum jam hampir menunjuk pukul dua belas ketika suara mobil akhirnya terdengar di halaman. Ririn yang sejak tadi hanya berbaring gelisah langsung membuka mata. Ia sebenarnya belum benar-benar tertidur. Sejak tadi ia hanya menunggu. Begitu mendengar suara pintu depan terbuka, Ririn segera bangkit dari tempat tidur. Ia berlari kecil ke ruang depan. Benar saja. Aldo baru saja masuk, masih mengenakan jas kerjanya. Wajahnya terlihat lelah, namun juga dingin seperti biasa. Ririn mencoba tersenyum. "Mas... kamu sudah pulang," ucapnya pelan, seolah takut suaranya terlalu keras. Tanpa menunggu jawaban, Ririn sudah berjalan mendekat. Tangannya terangkat dengan hati-hati, membantu Aldo melepas jas yang masih menempel di bahunya. Namun belum sempat ia menyentuhnya, Aldo tiba-tiba mendorong tangannya. Gerakannya tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat Ririn terhenti kaget. "Aku bukan anak kecil!" suara Aldo terdengar tajam. "Aku bisa sendiri." Kalimat itu jatuh begitu dingin di antara mereka. Senyum di wajah Ririn perlahan menghilang. Tangannya yang tadi terangkat perlahan turun kembali ke samping tubuhnya. "Oh... iya," gumamnya pelan. Aldo bahkan tidak menatapnya. Ia langsung melepas jasnya sendiri dengan kasar, lalu berjalan melewati Ririn begitu saja menuju kamar. Ririn berdiri beberapa detik di ruang itu. Seakan tubuhnya lupa bagaimana cara bergerak. Baru setelah suara pintu kamar terbuka, ia buru-buru menyusul. Ketika Ririn masuk, Aldo sudah menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Sepatu bahkan belum sepenuhnya dilepas. Ririn kembali mencoba mendekat. "Mas... kamu sudah makan?" tanyanya hati-hati. Tidak ada jawaban. Aldo hanya berbalik membelakangi Ririn. Beberapa detik kemudian, suara napasnya sudah terdengar berat. Seolah ia benar-benar tidak ingin berbicara sedikit pun. Ririn berdiri di samping tempat tidur, menatap punggung pria yang kini resmi menjadi suaminya. Matanya perlahan turun ke sepatu Aldo yang masih setengah terpasang. Biasanya, tanpa diminta pun ia akan membantu melepasnya. Namun kali ini, Ririn tidak berani lagi mendekat. Ia takut. Takut jika tangannya kembali ditepis seperti tadi. Perlahan Ririn mematikan lampu kamar. Lalu ia naik ke sisi tempat tidur yang lain dengan hati-hati, seolah takut mengganggu Aldo yang sudah membelakanginya. Jarak di antara mereka tidak sampai satu lengan. Namun rasanya, seperti dipisahkan oleh sesuatu yang sangat jauh. Ririn menarik selimut sampai ke dadanya. Matanya terbuka lama dalam gelap. Suara napas Aldo di sebelahnya terdengar tenang. Sementara Ririn hanya menatap langit-langit kamar yang tidak terlihat. Malam itu, ia kembali belajar satu hal baru. Bahwa tinggal di rumah yang sama tidak selalu berarti hubungan mereka akan dekat... Bersambung........
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN