Pagi itu rumah masih terasa sunyi. Cahaya matahari baru saja masuk melalui jendela ruang makan ketika Ririn sudah sibuk di dapur.
Sejak subuh ia sudah bangun.
Memasak sup hangat, telur dadar, dan roti panggang, makanan yang ia ingat pernah disukai Aldo.
Semalam Aldo pulang sangat larut dan langsung tidur tanpa bicara sepatah kata pun.
Ririn mencoba menghibur dirinya sendiri.
Mungkin dia benar-benar lelah.
Mungkin pekerjaan di perusahaan sedang berat.
Setelah semuanya siap, Ririn menata meja makan dengan rapi. Ia bahkan menambahkan segelas jus dan secangkir kopi hangat.
Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar dari tangga.
Aldo turun dengan setelan kerja yang sudah rapi. Jas hitamnya terpasang sempurna, hanya dasinya yang belum terikat.
Ririn segera berdiri.
“Mas, biar aku bantu.”
Tanpa menunggu jawaban, Ririn melangkah mendekat. Tangannya terangkat perlahan, merapikan kerah kemeja Aldo lalu mulai memasangkan dasi di leher pria itu.
Awalnya Aldo diam saja.
Ririn begitu dekat.
Aroma sabun yang lembut dari tubuhnya tercium samar.
Namun justru kedekatan itu membuat sesuatu di kepala Aldo kembali muncul.
Bayangan malam itu.
Seprei putih.
Noda merah yang terlihat jelas di matanya.
Entah kenapa bayangan itu membuatnya merasa jijik sebagai suami.
Padahal transaksi itu terjadi karena persetujuannya sendiri.
Bahkan Ririn tidak tahu apa-apa.
Rahang Aldo menegang.
Tiba-tiba tangannya mendorong Ririn menjauh.
“Cukup!”
Ririn terhuyung satu langkah ke belakang, matanya membesar kaget.
“Mas…?”
“Jangan menyentuhku sembarangan,” ujar Aldo dingin.
Nada suaranya datar, tapi cukup tajam untuk menusuk.
Ririn menunduk sedikit, kebingungan.
“Aku cuma mau membantu…”
Aldo tidak menjawab. Ia merapikan sendiri dasinya dengan gerakan cepat, lalu berjalan menuju pintu.
“Mas, sarapannya sudah siap,” ujar Ririn hati-hati.
Ia menunjuk meja makan yang sudah tertata rapi.
Sup masih mengepul hangat.
Roti panggang disusun rapi di piring.
Namun Aldo bahkan tidak meliriknya.
“Aku tidak lapar.”
Jawabannya singkat.
“Kalau dingin nanti aku panaskan lagi...”
“Aku bilang aku tidak lapar!”
Suara Aldo meninggi sedikit sebelum ia mengambil tas kerjanya.
Ririn terdiam.
Pintu rumah terbuka.
Tanpa menoleh sedikit pun, Aldo langsung keluar dan menutup pintu di belakangnya.
Suara pintu itu terdengar keras di rumah yang kosong.
Ririn masih berdiri di tempatnya.
Beberapa detik kemudian, ia perlahan menoleh ke arah meja makan.
Sup yang ia masak dengan hati-hati masih mengepul.
Kopi yang ia seduh dengan harapan sederhana masih utuh.
Tidak tersentuh sama sekali.
Ririn menarik napas pelan.
Tangannya perlahan merapikan kembali piring-piring di meja, walaupun semuanya sebenarnya sudah rapi.
“Tidak apa-apa…” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
“Mungkin Mas Aldo memang sedang banyak pikiran.”
Ia mencoba tersenyum.
Namun entah kenapa pagi itu, rumah yang seharusnya menjadi awal kehidupan barunya terasa jauh lebih sepi daripada sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah,
Ririn mulai merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan di dalam hatinya,
sebuah perasaan kecil
yang pelan-pelan mulai menyerupai kesepian.
-------
Siang harinya, setelah rumah kembali rapi dan sunyi, Ririn akhirnya memutuskan keluar. Ia merasa dadanya terlalu penuh untuk dipendam sendiri.
Orang pertama yang terlintas di pikirannya hanya satu.
Lila.
Seperti biasanya, mereka tidak bertemu di tempat kerja Lila. Ririn hanya tahu sahabatnya itu bekerja di sebuah perusahaan besar, tetapi Lila tidak pernah sekali pun mengajak Ririn datang ke kantornya.
Setiap kali Ririn menanyakan alamatnya, Lila selalu mengelak dengan alasan yang sama.
“Ribet kalau ke sana. Banyak aturan perusahaan.”
Akhirnya mereka sepakat bertemu di sebuah kafe yang cukup tenang.
Ririn sudah datang lebih dulu. Ia duduk sambil menunggu, kedua tangannya menggenggam gelas minuman yang bahkan belum ia sentuh.
Tidak lama kemudian Lila datang.
Perempuan itu langsung tersenyum begitu melihat Ririn, lalu duduk di depannya.
“Rin! Lama banget kita nggak ketemu,” ujarnya hangat.
Namun senyum Lila perlahan memudar ketika melihat wajah sahabatnya.
“Kamu kenapa? Mukamu kelihatan capek.”
Kalimat itu seolah membuka bendungan di dalam hati Ririn.
“Aku cuma… pengin cerita sedikit,” ucap Ririn pelan.
Lila langsung menyandarkan tubuhnya, memasang wajah penuh perhatian.
“Cerita saja. Kamu tahu kan aku selalu ada buat kamu.”
Ririn menunduk.
“Aku merasa Mas Aldo berubah.”
Lila tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat alis sedikit, seolah terkejut.
“Berubah bagaimana?”
Ririn menarik napas panjang.
“Dia dingin sekali sejak menikah. Bahkan… sejak malam pertama.”
Ia berhenti sejenak, jelas merasa malu untuk melanjutkan.
“Aku kira setelah menikah semuanya akan lebih baik. Tapi ternyata… tidak.”
Lila menatap Ririn beberapa detik. Wajahnya terlihat prihatin.
Namun jauh di dalam matanya, ada sesuatu yang berkilat tipis.
“Rin… mungkin dia cuma sedang stres dengan pekerjaan,” ujar Lila lembut.
“Kamu tahu sendiri kan kondisi perusahaannya.”
Ririn mengangguk pelan.
“Aku juga berpikir begitu. Tapi rasanya… seperti dia menjauh dariku.”
Lila meraih tangan Ririn.
“Jangan terlalu dipikirkan. Kamu ini terlalu sensitif.”
Ririn tersenyum kecil, walaupun masih terlihat ragu.
Beberapa saat mereka terdiam.
Tanpa sadar, Ririn tiba-tiba mengingat sesuatu dari masa lalu.
“Lil… kamu ingat Gerald?”
Seketika jari Lila yang memegang gelas sedikit menegang.
Namun ia cepat-cepat menutupi reaksinya.
“Ngapain ingat orang itu?” ujarnya ringan.
Ririn menggeleng pelan.
“Enggak kenapa-kenapa. Tadi cuma tiba-tiba ingat saja.”
"Kadang aku berpikir…
mungkin kata-kataku dulu kepada Kak Gerald memang terlalu kejam.
Mungkin saja apa yang terjadi padaku sekarang adalah balasan. Sebuah peringatan.
Agar aku merasakan sendiri bagaimana rasanya…
diperlakukan seperti itu oleh orang lain."
Lila langsung mendengus kecil.
“Gerald itu cowok paling menyebalkan yang pernah aku lihat.”
Nada suaranya terdengar begitu yakin, seperti dulu.
“Playboy. Suka gonta-ganti perempuan.”
“Pria seperti dia cuma suka menaklukkan perempuan, setelah dapat langsung bosan.”
Ririn hanya diam mendengarkan.
Lila melanjutkan dengan nada agak sinis.
“Aku saja sebel lihat dia.”
“Kamu ingat kan dulu dia sering mendekatimu?”
Ririn mengangguk pelan.
“Tapi aku tidak pernah serius menanggapinya.”
“Bagus.”
Lila tersenyum tipis.
“Memang jangan pernah.”
Ia lalu mencondongkan tubuh sedikit.
“Gerald itu jauh banget kalau dibandingkan dengan Mas Aldomu.”
Ririn terdiam.
Lila menepuk tangan Ririn pelan.
“Mas Aldo itu pria baik, Rin. Dia cuma lagi banyak beban.”
“Sedangkan Gerald? Dia cuma pria yang suka bermain-main.”
"Maklum anak konglomerat, suka seenaknya."
Lila tertawa kecil.
“Kamu jangan sampai kena rayuan pria seperti dia.”
Ririn ikut tersenyum tipis.
Ia tidak menyadari bahwa selama ini, semua cerita tentang Gerald yang ia percaya… sebagian besar datang dari mulut Lila sendiri.
Dan di hadapan Ririn, Lila memang selalu tampak seperti sahabat terbaik.
Tempat Ririn mencurahkan segala keluh kesahnya.
Sementara jauh di dalam hati Lila,
ia justru orang yang paling keras berusaha memastikan satu hal,
bahwa Ririn tidak akan pernah melihat Gerald sebagai pria yang layak
Bersambung.......