Aldo terus mengemudi tanpa arah. Jalanan kota berganti satu demi satu, tetapi pikirannya tetap terjebak di tempat yang sama.
Tangannya mencengkeram setir lebih erat.
Bayangan malam itu kembali menyelinap tanpa diundang.
Noda merah di seprai putih.
Wajah Ririn yang pucat.
Tatapan mata yang begitu polos hingga membuat dadanya terasa sesak.
Aldo mengertakkan rahang.
Sial!
Ia memaksa pikirannya menolak semua bayangan itu.
Untuk apa aku memikirkannya?
Aku bahkan tidak mencintai Ririn.
Ia mengembuskan napas kasar, lalu menoleh ke arah dashboard. Jarum jam digital menyala terang.
12.10
Waktu makan siang.
Entah kenapa, satu nama langsung muncul di kepalanya.
Lila.
Tanpa ragu Aldo meraih ponselnya dan menekan nomor yang sudah sangat ia hafal di luar kepala.
Panggilan itu tersambung setelah beberapa detik.
"Halo?" Suara lembut Lila terdengar dari seberang.
Hanya satu kata itu saja sudah cukup membuat d**a Aldo yang sejak tadi sesak terasa sedikit lega.
"Lila, kamu lagi di kantor?" tanya Aldo langsung.
"Iya. Kenapa?"
"Aku di dekat kantor kamu. Lagi jam makan siang, kan? Keluar makan sebentar."
Ada jeda singkat di seberang sana, seolah Lila sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Aldo… sekarang?" tanyanya pelan.
"Iya sekarang."
"Aku takut tidak enak sama Ririn," ucap Lila dengan nada ragu yang terdengar begitu tulus.
Mendengar nama itu disebut, ekspresi Aldo langsung mengeras.
"Ririn tidak tahu," jawabnya pendek. "Lagipula aku cuma makan siang."
Lila kembali terdiam sebentar, seolah masih diliputi keraguan.
Padahal justru keraguan itulah yang selalu membuat Aldo semakin ingin mendekat.
"Baiklah… tapi sebentar saja ya," akhirnya Lila berkata pelan.
"Kebetulan aku memang lagi jam istirahat."
Sudut bibir Aldo akhirnya terangkat tipis.
"Oke. Aku tunggu di kafe biasa."
Setelah panggilan terputus, Aldo langsung memutar setir mobilnya.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, arah tujuannya jelas.
Dan entah mengapa, setiap kali bersama Lila, Aldo selalu merasa seolah hidupnya kembali normal.
Seolah semua masalahnya menghilang.
Seolah ia bukan pria yang baru saja menghancurkan hidup istrinya sendiri.
--------
Aldo tiba di kafe yang biasa ia datangi bersama Lila. Tempat itu tidak terlalu ramai, cukup tenang untuk berbicara. Ia memilih meja di sudut, lalu menunggu dengan gelisah.
Tidak lama kemudian Lila datang.
Perempuan itu mengenakan blouse krem sederhana dengan rok hitam selutut. Penampilannya tidak mencolok, tetapi justru itu yang selalu membuatnya terlihat anggun dan menenangkan.
Begitu melihat Lila, ekspresi Aldo yang sejak pagi tegang sedikit melunak.
"Kamu sudah lama?" tanya Lila sambil duduk di hadapannya.
"Baru saja."
Pelayan datang mencatat pesanan, lalu suasana kembali hening beberapa detik.
Lila memperhatikan wajah Aldo dengan cermat.
"Kamu kelihatan capek sekali," ujarnya pelan. "Ada masalah?"
Pertanyaan sederhana itu seolah membuka pintu yang sejak tadi Aldo tahan.
Aldo mengembuskan napas panjang.
"Aku merasa seperti hidup di dalam sangkar," katanya tiba-tiba.
Lila mengernyit, pura-pura tidak mengerti.
"Maksudmu?"
Aldo menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap meja dengan wajah kesal.
"Ririn."
Nama itu keluar dengan nada yang berat.
"Lila… kamu tahu tidak rasanya punya seseorang yang selalu menempel seperti bayangan?"
Lila diam, memberi Aldo ruang untuk berbicara.
"Sejak dulu dia selalu ada di sekitarku. Di kantor, di rumah, di mana saja," lanjut Aldo dengan nada penuh kejengkelan.
"Seolah-olah tugasku hanya satu, membuat dia bahagia."
Tangannya mengepal di atas meja.
"Aku bahkan tidak pernah benar-benar punya ruang untuk diriku sendiri."
Lila menunduk sedikit, ekspresinya terlihat seperti ikut prihatin.
"Ririn mungkin hanya ingin dekat denganmu," katanya lembut.
Aldo tertawa pendek, tetapi tanpa humor.
"Itu bukan dekat, Lila. Itu seperti... dia selalu mengawasiku."
Ia mengangkat wajahnya dan menatap Lila dengan frustrasi.
"Kamu tahu tidak? Kadang aku merasa napasku saja seperti diatur."
Lila menghela napas pelan, lalu menggeleng kecil.
"Aku tidak tahu harus bilang apa," ucapnya hati-hati.
"Ririn itu temanku juga."
Kalimat itu terdengar seperti penolakan, tetapi justru membuat Aldo semakin ingin didengarkan.
"Aku tahu kamu baik," kata Aldo cepat.
"Itulah kenapa aku cuma bisa cerita sama kamu."
Lila terdiam, menatap Aldo dengan mata yang seolah penuh pengertian.
Padahal di balik tatapan lembut itu, ada sesuatu yang sulit ditebak.
"Aldo," katanya pelan setelah beberapa saat.
"Kadang seseorang terlalu baik sampai dia tidak sadar sedang membuat orang lain tertekan."
Aldo menatapnya.
"Maksudmu?"
Lila memainkan sendok di cangkirnya perlahan.
"Aku hanya berpikir… mungkin Ririn terlalu bergantung padamu," ujarnya hati-hati.
"Dia menjadikan kamu pusat hidupnya."
Ia lalu mengangkat wajah, menatap Aldo dengan tatapan lembut.
"Dan itu tidak adil untukmu."
Kalimat sederhana itu seperti pembenaran yang sejak lama dicari Aldo.
Wajahnya langsung menegang.
"Persis!" katanya dengan nada lebih keras.
"Itu yang aku rasakan."
Lila segera mengangkat tangan kecil seolah menenangkan.
"Pelan… nanti orang-orang melihat."
Aldo akhirnya menurunkan suaranya, tetapi emosinya jelas belum reda.
"Aku hanya ingin hidup normal," katanya lebih pelan.
"Tidak terus diawasi seperti itu."
Lila menatap Aldo lama, lalu tersenyum tipis, senyum yang begitu lembut hingga sulit dicurigai.
"Kadang… hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan," katanya lirih.
Lalu ia menambahkan dengan nada yang nyaris seperti bisikan,
"Tapi kamu tidak sendirian."
Kalimat itu membuat Aldo menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Dan tanpa ia sadari, justru kata-kata sederhana dari Lila itulah yang perlahan membuatnya semakin jauh dari Ririn.
----------
Toni berdiri tegak di depan meja kerja Gerald. Seperti biasa, wajahnya datar dan suaranya tenang ketika menyampaikan laporan.
“Tuan Gerald, ada perkembangan yang perlu saya laporkan.”
Gerald yang sejak tadi menatap layar laptopnya hanya mengangkat sedikit pandangan.
“Katakan.”
“Setelah pasangan itu pulang dari hotel pagi tadi, Aldo tidak lama berada di rumah. Ia meninggalkan Ririn sendirian, lalu pergi berkeliling tanpa tujuan.”
Gerald tidak langsung menanggapi. Tangannya berhenti di atas keyboard, tetapi wajahnya tetap tenang.
Toni melanjutkan,
“Sampai siang ini… saya melihat sesuatu yang cukup mengejutkan.”
Kini Gerald benar-benar menutup laptopnya perlahan.
“Apa itu?”
“Aldo bertemu dengan seseorang di sebuah kafe.” Toni berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Lila.”
Alis Gerald sedikit terangkat.
“Sekretaris Anda.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Toni menambahkan dengan nada profesional,
“Saya akan menyelidiki lebih jauh apa hubungan mereka.”
Namun jawaban Gerald justru di luar dugaan.
“Tidak perlu.”
Toni sedikit tertegun.
Gerald menyandarkan tubuhnya ke kursi, ekspresinya kembali datar.
“Lila adalah teman baik Ririn sejak kuliah.”
Nada suaranya tenang, seolah hal itu tidak berarti apa-apa.
“Kau hanya perlu menyelidiki satu hal.”
Toni menunggu.
“Apa sebenarnya hubungan Aldo dan Ririn saat ini,” lanjut Gerald pelan. “Apakah mereka hanya kebetulan dekat karena pertemanan lama… atau ada hubungan lain di antara mereka.”
Toni mengangguk kecil.
“Baik, Tuan.”
Namun sebelum berbalik pergi, keningnya sempat mengerut tipis.
Ia tidak banyak bertanya. Selama bekerja pada Gerald, ia sudah terbiasa bahwa pria itu jarang menjelaskan alasannya.
Tetapi kali ini tetap terasa aneh.
Mengapa tuannya tiba-tiba begitu ingin mengetahui kehidupan seorang wanita?
Kalau wanita itu masih lajang, mungkin masih masuk akal.
Namun wanita ini…
Seorang perempuan yang sudah menikah.
Bahkan masih pengantin baru.
Untuk apa tuannya menyelidiki hal seperti itu?
Toni menelan pertanyaannya sendiri. Semua keheranan itu ia simpan rapat dalam pikirannya.
Lagipula, tugasnya hanya satu.
Melakukan perintah dengan sempurna.
Tanpa bertanya.
Tanpa mencampuri urusan tuannya.
Sementara itu, di dalam ruangan yang kembali sepi, Gerald menatap ke luar jendela dengan pandangan yang sulit ditebak.
Nama itu kembali terlintas di pikirannya.
Ririn.
Dan entah mengapa, semakin banyak hal yang ia ketahui tentang perempuan itu…
semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Seolah-olah cerita di balik pernikahan itu tidak sesederhana yang terlihat.
Bersambung.........