Tubuh Lila menegang tanpa ia sadari, ketika Ririn menyebut nama Gerald.
Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa panas.
Lila menahan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang di depan Ririn. Ia bahkan sempat mengulurkan tangan, menepuk punggung sahabatnya itu dengan lembut, seolah memberi dukungan.
“Sudah Rin, jangan berpikir macam-macam lagi. Jangan berpikir seperti itu, Rin,” ucapnya pelan.
Namun di dalam hati, pikirannya sudah berputar ke arah lain.
Gerald.
Lagi-lagi nama itu muncul dari bibir Ririn.
Entah mengapa, setiap kali Ririn menyebut nama pria itu, ada sesuatu di dalam diri Lila yang terasa bergejolak. Campuran antara kesal, iri, dan sesuatu yang bahkan sulit ia akui pada dirinya sendiri.
Tanpa ia inginkan, ingatannya melayang pada malam itu.
Dan seketika rahangnya mengeras.
Dalam hatinya, ia justru menyalahkan Aldo.
Pria bodoh itu.
Jika saja Aldo tidak membuat kekacauan dengan utangnya… jika saja dia tidak sampai menjual sesuatu yang seharusnya tidak ia jual… maka semua itu tidak akan terjadi.
Malam itu.
Panas menjalar di dadanya ketika mengingatnya.
Bertahun-tahun.
Bertahun-tahun ia berada di dekat Gerald.
Menjadi sekretarisnya.
Mengatur jadwalnya.
Mendampinginya dalam perjalanan bisnis.
Ia tahu hotel mana yang mereka datangi.
Ia tahu kota mana saja yang pernah mereka kunjungi bersama.
Bahkan beberapa kali mereka pergi keluar kota hanya berdua, perjalanan bisnis yang membuat mereka harus menginap di hotel yang sama.
Kesempatan seperti itu pernah ada.
Berkali-kali.
Dan setiap kali itu terjadi, Lila selalu berusaha.
Kadang lewat gaun yang sedikit lebih berani dari biasanya.
Kadang lewat sentuhan kecil yang tampak tidak sengaja. tangan yang terlalu lama menyentuh lengan Gerald, atau bahu yang pura-pura bersandar saat mereka berjalan berdampingan.
Ia tahu pria seperti Gerald.
Tampan.
Kaya.
Berkuasa.
Dan pria seperti itu biasanya tidak sulit digoda.
Namun yang membuatnya paling kesal adalah satu hal.
Gerald tidak pernah benar-benar menanggapi.
Bukan menolak terang-terangan, tetapi juga tidak pernah mengambil langkah lebih jauh.
Seolah semua godaannya… tidak cukup menarik bagi pria itu.
Dan sekarang?
Gerald justru mengeluarkan uang dalam jumlah besar.
Bukan untuknya.
Melainkan hanya untuk menikmati satu malam… dengan Ririn.
Ririn yang duduk di depannya sekarang dengan wajah polos itu.
Ririn yang bahkan tidak tahu apa pun.
Jari Lila mengepal di atas meja tanpa ia sadari.
Namun ketika Ririn mengangkat wajahnya, Lila sudah kembali tersenyum lembut.
Topengnya kembali sempurna.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Rin,” ucapnya halus.
Padahal jauh di dalam hatinya, satu pikiran pahit terus berputar.
Kenapa harus Ririn?
Padahal jika ada seseorang yang seharusnya berada di dekat Gerald selama ini…
Seharusnya itu dia.
---------
Toni kembali muncul di ruang kerja Gerald menjelang sore. Seperti biasa, pria itu berdiri tegak di depan meja kerja, wajahnya serius.
“Ada perkembangan baru, Tuan,” ujarnya singkat.
Gerald yang sedang menandatangani beberapa dokumen mengangkat sedikit alisnya, memberi isyarat agar Toni melanjutkan.
“Saya mengikuti aktivitas Aldo sejak mereka pulang dari hotel.”
Gerald berhenti menulis.
Tanpa sadar, perhatiannya langsung terfokus ke Toni.
“Tadi malam Aldo pulang ke rumahnya sangat larut. Hampir tengah malam,” lanjut Toni.
“Dan pagi-pagi sekali dia sudah keluar lagi.”
Gerald bersandar di kursinya, menunggu.
“Tapi dia tidak pergi ke perusahaan.”
Rahang Gerald sedikit mengeras.
“Dia justru pergi bertemu teman-temannya. Bermain biliar.”
Toni menambahkan dengan nada datar,
“Setahu saya, sementara ini perusahaan Aldo justru sedang ditangani oleh ayahnya. Mereka sepertinya mengira Aldo masih menikmati bulan madu.”
Kalimat itu membuat Gerald tertawa pendek, bukan tawa yang benar-benar lucu.
Bulan madu.
Ia tahu persis seperti apa “bulan madu” itu.
Toni melanjutkan, “Kalau saya boleh menyimpulkan… hubungan mereka tidak terlihat seperti pasangan pengantin baru.”
Gerald tidak langsung menjawab.
Namun dalam hatinya, sesuatu terasa aneh.
Aldo menjauh.
Sedangkan Ririn…
Pikirannya tanpa sadar kembali pada wajah perempuan itu malam itu. Wajah yang setengah sadar. Bibir yang memanggil nama pria lain.
Mas Al…
Gerald menutup matanya sebentar, menahan bayangan itu.
Namun Toni belum selesai.
“Selain itu… ada hal lain.”
Gerald membuka matanya lagi.
“Apa?”
“Tadi siang saya melihat Ririn.”
Hanya satu kalimat itu, dan perhatian Gerald langsung terangkat.
“Di mana?”
Pertanyaan itu keluar hampir terlalu cepat.
Bahkan Toni sempat terdiam sepersekian detik sebelum menjawab.
“Di sebuah kafe dekat perusahaan kita.”
Gerald tidak menyadari bagaimana tubuhnya sedikit condong ke depan.
“Dengan siapa?”
“Dengan seorang wanita,” jawab Toni. “Sekretaris Anda.”
Gerald mengerutkan kening.
“Maksudmu… Lila?”
“Ya, Tuan.”
Sejenak ruangan itu terasa hening.
Gerald menatap jendela kantornya, pikirannya mulai bergerak cepat.
Ririn.
Dekat dari sini.
Hanya beberapa menit dari tempatnya berada sekarang.
Tanpa ia sadari, ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Sesuatu yang bahkan tidak ingin ia akui.
Rindu.
Konyol.
Ia bahkan tidak benar-benar mengenal perasaannya sendiri,
Namun entah mengapa, keinginan untuk melihatnya kembali, meskipun hanya dari jauh-tiba-tiba muncul begitu kuat.
Gerald berdiri dari kursinya.
“Mobil,” katanya singkat.
Toni langsung mengerti.
Beberapa menit kemudian, mobil hitam milik Gerald sudah berhenti tidak jauh dari kafe yang dimaksud.
Gerald tidak turun.
Ia hanya duduk di kursi belakang, pandangannya tertuju ke arah jendela kaca kafe.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Ririn.
Perempuan itu duduk di dekat jendela. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya terlihat lelah namun tetap lembut seperti biasanya.
Ia sedang berbicara dengan Lila.
Sesekali Ririn tersenyum kecil, tetapi mata itu… terlihat sedikit sembab.
Gerald tidak tahu kenapa.
Namun melihatnya seperti itu membuat dadanya terasa aneh.
Ada dorongan untuk keluar dari mobil.
Berjalan masuk.
Menarik kursi di depan Ririn dan bertanya langsung,
Apa yang Aldo lakukan padamu?
Namun Gerald tetap diam.
Ia hanya memandang dari jauh.
Dan tanpa ia sadari, pandangannya terlalu lama tertuju pada perempuan itu.
Sementara di dalam kafe,
Lila yang sedang berbicara tiba-tiba berhenti.
Matanya menangkap sesuatu di luar jendela.
Sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal.
Mobil Gerald.
Jantungnya langsung berdegup keras.
Pandangan Lila menyipit.
Ia mengenali mobil itu. Ia bahkan tahu nomor platnya di luar kepala.
Tidak mungkin salah.
Dan ketika ia melihat ke arah kaca mobil yang sedikit gelap itu…
entah mengapa ia yakin.
Gerald ada di dalam sana.
Bukan kebetulan.
Bukan lewat.
Gerald datang ke sini.
Untuk melihat Ririn.
Seketika sesuatu terasa panas di d**a Lila.
Senyumnya tetap terpasang di depan Ririn.
Namun di dalam hatinya, rasa iri itu mulai menyala lagi.
Jadi… bahkan sekarang pun…
yang ingin kau lihat tetap dia?
Padahal selama ini, orang yang selalu ada di dekatmu adalah aku.
Bersambung........