Mobil berhenti di depan rumah baru mereka.
Rumah yang akan menjadi awal kehidupan sebagai suami istri.
Ririn menatap bangunan itu dengan senyum kecil. Ia ingin menyimpan momen itu di ingatannya, hari pertama mereka pulang sebagai pasangan resmi.
Namun Aldo hanya turun sebentar, mengambil kunci dari dashboard, lalu menyerahkannya pada Ririn.
“Aku ada urusan,” katanya singkat.
“Sekarang, Mas?” Ririn bertanya pelan.
“Iya.”
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada kata kapan ia akan kembali.
Mesin mobil kembali menyala, dan dalam hitungan detik, Aldo sudah pergi.
Ririn berdiri sendirian di depan pintu rumah yang bahkan belum sempat ia masuki sebagai seorang istri.
Dadanya terasa sedikit kosong.
Setahu Ririn, ini masih masa bulan madu mereka.
Sebelum mereka berangkat ke hotel kemarin, ibu Aldo bahkan sempat berpesan dengan senyum hangat agar mereka benar-benar menikmati waktu berdua.
“Gunakan waktu ini sebaik-baiknya. Kalian masih pengantin baru. Nikmati saja dulu masa-masa ini,” kata beliau waktu itu. Lalu dengan nada sedikit bercanda, ia menambahkan,
“Siapa tahu kalau kalian santai dan bahagia, ibu bisa cepat dapat cucu.”
Ririn sempat tersenyum kecil bahagia.
Yang ia tahu, selama beberapa hari ini Aldo memang tidak perlu memikirkan pekerjaan. Ayah Aldo bahkan sudah mengatakan akan sementara menggantikan Aldo di perusahaan.
Karena itu, dalam pikiran Ririn, seharusnya hari-hari ini hanya tentang mereka berdua.
Tentang menikmati waktu sebagai suami istri.
Tentang membangun kedekatan yang selama ini mungkin belum sempat mereka rasakan.
Namun kenyataannya, sejak pagi tadi semuanya terasa berbeda.
Aldo terlihat terburu-buru.
Dingin.
Dan sekarang bahkan pergi tanpa mengatakan ke mana.
Ririn menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Ia tidak ingin berpikir buruk.
Bagaimanapun juga, ini masih hari-hari pertama pernikahan mereka.
Ririn ingin percaya bahwa semuanya akan membaik.
Dan seperti biasa, ia segera menghibur dirinya sendiri.
Mungkin Aldo sedang sibuk.
Mungkin ada pekerjaan mendesak.
Ia cukup tahu keadaan perusahaan keluarga itu tidak sedang baik-baik saja. Beberapa kali ia melihat Aldo pulang dengan wajah tegang, menerima telepon hingga larut malam, berbicara dengan nada yang lebih keras dari biasanya.
Sejak lulus kuliah, keinginan Ririn hanya satu,
membantu Aldo.
Ia masuk ke perusahaan keluarga itu bukan demi gaji. Bahkan sering kali ia menolak ketika bagian keuangan mencoba mencatat honor untuknya.
Ia bekerja di mana pun dibutuhkan.
Membantu administrasi.
Mengurus klien.
Menemani Aldo dalam beberapa pertemuan kecil.
Apa saja, selama itu bisa meringankan beban pria yang ia cintai.
Namun Ririn tidak pernah menyadari,
di mata Aldo, kehadirannya terasa berbeda.
Bukan sebagai dukungan.
Melainkan bayangan.
Seolah ia selalu ada di dekatnya.
Seolah ia mengawasi.
Seolah ia mengingatkan bahwa semua orang memperhatikan bagaimana ia bekerja.
Mungkin itulah sebabnya, sesaat setelah mereka resmi menikah, Aldo langsung berkata tegas,
“Kamu tidak perlu kerja lagi di perusahaan. Berhenti saja.”
Tidak ada diskusi.
Tidak ada alasan panjang.
Dan seperti biasa, Ririn hanya mengangguk.
Ia tidak pernah menentang.
Dalam pikirannya, mungkin Aldo ingin ia beristirahat.
Mungkin Aldo ingin ia fokus menjadi ibu rumah tangga.
Mungkin itu bentuk perhatian.
Ririn selalu memilih makna yang paling baik.
Rumah baru itu terasa sunyi saat ia masuk.
Ia menutup pintu pelan, lalu menghela napas panjang.
Tubuhnya masih terasa perih. Setiap langkah mengingatkannya pada malam yang ia yakini sebagai awal cinta.
Namun ia menahan semua rasa itu.
Ia menggulung lengan baju.
Membersihkan ruang tamu.
Merapikan meja.
Membuka jendela agar cahaya masuk lebih leluasa.
Ia ingin saat Aldo pulang nanti, rumah ini terasa hangat.
Terasa hidup.
Ia masuk ke dapur dengan semangat yang dibuat-buat.
Membuka kulkas yang sudah diisi bahan makanan oleh pihak keluarga.
Tangannya mulai bekerja.
Memotong sayur.
Menanak nasi.
Memasak hidangan sederhana yang ia tahu menjadi kesukaan Aldo sejak kecil.
Sesekali ia meringis pelan saat rasa nyeri kembali menyentak.
Namun ia tersenyum sendiri.
Ini bagian dari menjadi istri, pikirnya.
Menjelang sore, rumah itu mulai beraroma masakan rumahan.
Hangat.
Nyaman.
Ririn berdiri sejenak di tengah ruang makan, memandang hasil kerjanya.
Meja tertata rapi.
Makanan siap saji.
Lampu dinyalakan dengan cahaya lembut.
Ia membayangkan Aldo masuk, mencium aroma masakan, tersenyum kecil, lalu berkata terima kasih.
Bayangan itu saja sudah cukup membuat hatinya hangat.
Ia tidak menuntut banyak.
Tidak meminta perhatian berlebihan.
Tidak meminta janji manis.
Ia hanya ingin menjadi tempat pulang.
Menjadi perempuan yang membuat suaminya merasa tenang.
Dan tanpa ia sadari,
justru karena kesabaran dan ketulusannya itulah,
ia semakin jauh dari memahami apa yang sebenarnya terjadi di hati Aldo.
----------
Aldo mengemudi tanpa tujuan.
Mobilnya melaju menyusuri jalan kota yang mulai ramai, tetapi pikirannya kosong. Ia bahkan tidak benar-benar tahu ke mana ia ingin pergi. Yang ia tahu hanya satu, ia tidak ingin kembali ke rumah itu sekarang.
Rumah yang baru saja ia tinggalkan.
Rumah yang kini ditempati Ririn.
Tangannya mencengkeram setir lebih erat ketika wajah perempuan itu kembali terbayang di kepalanya.
Wajah yang tadi pagi menatapnya dengan senyum malu.
Wajah yang terlihat begitu… bahagia.
Rahang Aldo mengeras.
Yang terlintas di kepalanya justru malam itu.
Napas Ririn yang tidak teratur. Tubuh yang gemetar. Dan...
noda merah di atas sprei.
Bayangan itu muncul begitu jelas, membuat dadanya terasa sesak.
Bagi orang lain mungkin itu bukti sesuatu yang berharga. Bukti kemurnian seorang istri.
Namun bagi Aldo, pemandangan itu justru terasa seperti ejekan.
Seperti tanda yang menertawakan dirinya.
Ia menginjak pedal gas sedikit lebih dalam.
Sial.
Tanpa ia sadari, hatinya selalu kembali pada pikiran yang sama.
Semua ini terjadi karena Ririn.
Jika bukan karena pernikahan ini…
Jika bukan karena perempuan itu…
Ia tidak perlu melakukan semua yang terjadi semalam.
Ia tidak perlu merasa seperti ini.
Aldo menggeram pelan.
Padahal awalnya, saat ia menjual Ririn, ia bisa melakukannya dengan begitu ringan.
Tanpa ragu.
Tanpa rasa bersalah.
Ia bahkan berpikir semuanya akan selesai begitu saja.
Namun sekarang…
Mengapa justru perasaannya sendiri yang berubah?
Mengapa bayangan tentang Ririn terus muncul di kepalanya?
Mengapa setiap kali mengingat malam itu, dadanya terasa semakin sesak?
Aldo menggertakkan giginya pelan.
Apakah ini…?
“Mengapa aku harus merasa tidak rela?” gumamnya kesal pada dirinya sendiri.
Ia menggeleng keras, seolah ingin mengusir pikiran yang mengganggunya.
“Aku tidak mencintai Ririn.”
Kata-kata itu ia ucapkan dengan tegas, seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Ini bukan cemburu.”
Bahkan memikirkan kemungkinan itu saja membuatnya muak.
Baginya, Ririn tidak lebih dari perempuan yang dipilihkan ibunya. Perempuan yang sejak dulu selalu ada di sekitarnya seperti bayangan yang tidak bisa ia singkirkan.
Sekarang bayangan itu bahkan resmi menjadi istrinya.
Dan entah mengapa, justru itu yang membuat Aldo semakin merasa terjebak dan tertekan.
Ia menghembuskan napas kasar.
“Melihat wajahnya sekarang malah membuatku mual.”
Tangannya memukul ringan setir mobil.
“Lebih baik aku menghindarinya sebisa mungkin.”
Seolah itu keputusan yang paling masuk akal.
Seolah menjauh adalah solusi.
Padahal jauh di dalam dirinya, Aldo tahu satu hal yang tidak ingin ia akui....
yang ia hindari bukan hanya Ririn.
Ia juga sedang menghindari kenyataan yang terjadi semalam.
Bersambung.........