Keluarga Aldo memang berada.
Mereka memiliki perusahaan yang stabil, aset yang cukup, dan nama yang dikenal di kalangan bisnis menengah atas. Hidup mereka nyaman, terpandang, dan terhormat.
Namun mereka bukan yang paling berkuasa.
Masih ada lingkaran yang lebih tinggi.
Dan di lingkaran itulah Gerald berdiri.
Sebagai anak tunggal, Aldo dipersiapkan menjadi penerus sejak kecil. Semua sudah diarahkan untuknya,
sekolah terbaik yang masih dalam jangkauan,
relasi bisnis yang dibangun sejak muda,
bahkan calon istri yang dianggap paling “aman” untuk masa depannya.
Namun tidak semua berjalan sesuai harapan.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa keputusan bisnis yang ia ambil tidak sepenuhnya berhasil. Ada proyek yang tertunda, ada kerja sama yang gagal, ada angka-angka yang tidak sesuai target.
Perusahaannya tidak bangkrut.
Tapi cukup goyah untuk membuatnya gelisah.
Dan yang paling ia takutkan-
orang tuanya mengetahui bahwa ia tidak sebaik yang mereka kira.
Aldo tidak ingin terlihat tidak becus.
Tidak ingin ayahnya menatapnya dengan kekecewaan.
Tidak ingin ibunya mulai meragukan pilihan yang telah mereka banggakan.
Itulah sebabnya ia mencari jalan sendiri.
Mencari bantuan tanpa sepengetahuan keluarga.
Dan pada akhirnya, ia berdiri di hadapan Gerald.
Meminta suntikan dana yang tidak bisa ia peroleh dari lingkarannya sendiri.
Sebuah keputusan yang diam-diam menggerogoti harga dirinya.
Mungkin itu pula yang membuatnya mudah tersulut.
Mudah merasa terancam.
Mudah marah ketika ada sesuatu yang menyentuh egonya.
Karena jauh di dalam dirinya,
ia sedang berusaha keras menutup keburukan yang tidak ingin siapa pun lihat.
Jauh sebelum pernikahan itu terjadi, Aldo pernah mencoba menolak.
Suatu malam, dengan keberanian yang ia kumpulkan setengah hati, ia mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak pernah melihat Ririn sebagai perempuan.
“Hanya seperti saudara,” ucapnya waktu itu. “Aku justru lebih menyukai Lila… teman Ririn.”
“Ririn itu elegan, lembut, terpelajar. Memang keluarganya sederhana, tapi ibu sudah mengenal orang tuanya sejak dulu. Didikannya bagus. Ayah dan ibunya pengajar. Ibu yakin dia yang paling cocok jadi istrimu. Dia pasti akan menjadi istri yang ideal.”
Suara sang ibu tidak meninggi, tapi tegas. Penuh keyakinan yang tidak memberi ruang bantahan.
“Lihat bagaimana dia menjaga diri untukmu. Dia bahkan tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Melirik saja tidak. Padahal apa yang kurang dari Ririn? Dia cantik, setia, anggun. Pria mana yang tidak akan mudah jatuh cinta pada perempuan seperti itu?”
Tatapan sang ibu mengeras.
“Hanya pria bodoh yang tidak melihat nilainya.”
Aldo menegang.
Ia ingin berbicara. Ingin mengatakan bahwa perasaan tidak bisa dipaksa. Bahwa ia tidak pernah melihat Ririn sebagai perempuan.
Namun sang ibu belum selesai.
“Ibu yakin setelah kalian menikah, dalam waktu singkat kau pasti akan menyukainya. Sebagai seorang perempuan. Sebagai seorang istri.”
Kemudian nada sang ibu berubah lebih tajam.
“Dan Lila? Kau malah menyukai Lila? Dari cara dia memandang saja ibu sudah tahu itu bukan perempuan yang baik.”
Nada itu berubah.
Bukan lagi sekadar nasihat.
Melainkan keputusan.
Sebuah ketetapan yang sudah ditandatangani bahkan sebelum Aldo sempat mengangguk.
Ia membuka mulut, tetapi tidak ada celah untuk menyanggah.
Tidak ada ruang diskusi.
Tidak ada pilihan lain yang dianggap masuk akal.
Seperti biasa, ia hanya diberi satu arah,
dan diminta berjalan tanpa bertanya.
Dan sejak saat itu, sesuatu di dalam dirinya mulai memberontak.
Bukan pada ibunya.
Melainkan pada perempuan yang disebut-sebut terlalu sempurna untuk ditolak itu.
Ririn.
Dan seperti biasa, Aldo mengalah.
Bukan karena setuju.
Tapi karena lelah melawan.
Sejak kecil, semua memang sudah disodorkan untuknya.
Sekolah.
Bisnis.
Lingkungan.
Bahkan… istri.
Ia merasa hidupnya seperti daftar keputusan yang sudah ditandatangani orang lain.
Pernikahan ini pun terasa seperti satu lagi kewajiban yang harus ia jalani.
Mungkin karena itulah, perlahan ia mulai bersikap dingin pada Ririn.
Berharap perempuan itu akan lelah.
Berharap Ririn tidak benar-benar menyukainya.
Berharap semuanya batal dengan sendirinya tanpa ia harus menjadi pihak yang disalahkan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Ririn menerima semuanya.
Tanpa protes.
Tanpa tuntutan.
Tanpa drama.
Ia setuju pada perjodohan itu dengan senyum tulus.
Dan sikap itulah yang entah mengapa membuat Aldo semakin gelisah.
Karena di balik kelembutan itu, ia justru merasa semakin terikat.
Semakin sulit untuk pergi. Semakin terkekang.
Dan semakin sulit untuk membenci perempuan yang tidak pernah melawannya.
Itulah yang membuat Aldo—
tanpa sadar—
mulai melampiaskan pemberontakannya dengan cara yang paling pengecut:
bersikap dingin pada orang yang tidak pernah menyakitinya.
----------
Sayangnya, Aldo tidak pernah tahu-
bahwa dugaan ibunya mungkin benar.
Entah itu kebetulan.
Atau memang seorang ibu bisa membaca watak seseorang hanya dari cara menatap dan cara tersenyum.
Di balik kegigihan Ririn bertahan selama ini, ada satu suara yang selalu menyemangatinya.
Suara yang membuat Ririn menutup diri dari pria mana pun.
Terutama dari Gerald.
Dan suara itu adalah Lila.
Di hadapan Aldo, Lila selalu berbeda.
Lembut.
Mengerti.
Sedikit menjauh, tapi tidak pernah benar-benar pergi.
Saat Aldo mencoba mendekat lebih jauh, Lila akan tersenyum tipis dan menurunkan pandangannya.
“Jangan seperti itu… aku enggak enak sama Ririn.”
Nada suaranya lembut, penuh penyesalan seolah-olah ia korban keadaan.
“Kalau saja tidak ada Ririn di antara kita…” Aldo pernah berkata setengah putus asa.
Lila hanya menghela napas pelan.
“Mungkin aku akan menyukaimu,” jawabnya pelan, menggantung kalimat itu di udara.
Tidak pernah tegas menolak.
Tidak pernah benar-benar menerima.
Cukup untuk membuat Aldo berharap.
Cukup untuk membuatnya tergila-gila.
“Kita berteman saja,” lanjut Lila suatu ketika, menatap Aldo dengan mata yang terlihat tulus.
“Kalau kau ada masalah… kalau kau kecewa… datang padaku. Cerita padaku.”
Dan Aldo datang.
Berulang kali.
Setiap kali merasa gagal.
Setiap kali merasa ditekan orang tuanya.
Setiap kali merasa pernikahannya tidak seperti yang ia bayangkan.
Ia datang pada Lila.
Dan setiap kali itu pula, benih kebencian pada Ririn tumbuh perlahan.
Karena di pikirannya, Ririnlah penghalang.
Ririnlah alasan ia tidak bisa bersama perempuan yang “memahaminya”.
Padahal...
di belakang Aldo, Lila memainkan peran yang sama sekali berbeda.
Ia duduk di samping Ririn, menggenggam tangannya dengan wajah penuh simpati.
“Yang sabar ya, Rin. Aldo mungkin butuh waktu.”
Ririn mengangguk, menyeka air mata kecil yang tidak sempat jatuh.
“Aldo sedang membangun karier. Tekanan dia pasti besar. Kamu harus lebih pengertian.”
Lila berbicara dengan nada lembut yang nyaris seperti kakak sendiri.
“Mungkin Aldo memang bukan tipe pria romantis. Tapi bukan berarti dia tidak menyukaimu.”
Kalimat-kalimat itu seperti obat penenang.
Membuat Ririn terus bertahan.
Terus memaklumi.
Terus menyalahkan dirinya sendiri.
Bahkan Lila pernah berkata sambil tersenyum tipis,
“Dia pernah menolongmu waktu kecil, kan? Anggap saja kamu sedang membalas hutang budimu. Cinta itu bisa tumbuh setelah menikah.”
Ririn memeluk sahabatnya itu dengan penuh rasa syukur.
Tidak pernah tahu,
bahwa di balik pelukan itu, Lila tersenyum dengan cara yang berbeda.
Lila tidak pernah benar-benar menginginkan Aldo.
Aldo hanyalah pembuktian.
Bahwa ia bisa membuat pria yang dicintai Ririn berpaling.
Bahwa ia tidak kalah.
Bahwa ia selalu bisa menjadi pusat perhatian.
Yang benar-benar ia incar...
adalah posisi.
Kekuasaan.
Dan pria yang berada satu tingkat lebih tinggi dari semuanya.
Gerald.
Dan selama Ririn masih berdiri di tengah permainan itu,
Lila tidak akan membiarkannya bahagia.
Bersambung..........