Setelah Aldo masuk ke kamar dan membanting pintu, rumah kembali sunyi. Ririn masih berdiri di ruang tamu. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Kata-kata Aldo tadi masih terngiang jelas di telinganya. Perempuan murahan. Dadanya terasa seperti diremas. Ia tidak mengerti. Apa sebenarnya kesalahannya? Ririn perlahan duduk di sofa. Tangannya gemetar saat menyeka air matanya. Selama ini ia selalu berusaha menjadi istri yang baik. Menuruti semua perkataan Aldo. Menahan semua sikap dinginnya. Namun semakin lama… ia justru semakin merasa seperti orang yang selalu bersalah. Padahal ia bahkan tidak tahu kesalahannya di mana. Pikirannya kembali pada satu hal. Gerald. Mengapa Aldo begitu marah hanya karena pria itu melihatnya? Mengapa seolah-olah semua masalah selalu be

