Cahaya pagi menelusup pelan melalui celah tirai.
Ririn menggeliat pelan.
Tubuhnya terasa pegal, berat, seperti habis melalui sesuatu yang menguras tenaga. Ada perih samar yang membuatnya meringis, namun rasa itu justru menghadirkan kehangatan aneh di dadanya.
Malam pertama.
Pipi Ririn memanas.
Perlahan ia membuka mata.
Dan di sana, Aldo sudah berdiri, berpakaian rapi. Kemeja tersetrika sempurna. Rambut tertata. Seolah ia tidak pernah melewati malam panjang.
Senyum malu terbit di wajah Ririn.
“Maaf, Mas… aku baru bangun,” ujarnya lirih, merasa bersalah karena membiarkan suaminya bangun lebih dulu.
Ia menunggu.
Menunggu nada hangat. Senyum lembut. Atau setidaknya tatapan berbeda dari biasanya.
Namun Aldo tidak menjawab.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kelembutan.
Wajah pria itu dingin. Kaku. Tatapannya bahkan tidak bertahan lama padanya.
Senyum Ririn perlahan memudar.
Ada sesuatu yang retak, kecil, tapi terdengar jelas di dalam hatinya.
Padahal semalam…
Samar-samar ingatannya kembali.
Sentuhan yang terasa begitu bergelora. Pelukan yang erat sebelum ia benar-benar terlelap. Ia ingat bagaimana tubuhnya ditarik mendekat, bagaimana lengan itu melingkari pinggangnya seolah tidak ingin melepas.
Ia merasa aman.
Dicintai.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertidur dengan hati yang tenang.
Namun pagi ini, jarak itu terasa nyata.
Aldo berbalik sebentar, tangannya merapikan jam di pergelangan tangan.
Sepasang matanya sempat menoleh ke arah tempat tidur.
Dan tanpa sengaja, ia melihatnya lagi.
Noda merah di atas seprai putih.
Bibirnya menegang.
Alih-alih merasa bangga, perutnya justru terasa mual. Ada rasa jijik yang tiba-tiba muncul, tidak jelas pada siapa sebenarnya diarahkan.
Pada Ririn?
Atau pada dirinya sendiri?
Ia menoleh cepat, menghindari pemandangan itu.
Seolah semua yang terjadi semalam adalah kesalahan yang ingin segera ia hapus.
Dan ironisnya,
ia lupa bahwa semua itu terjadi bukan karena Ririn memohon.
Bukan karena Ririn memaksa.
Melainkan karena kehendaknya sendiri.
Ririn memperhatikan punggung Aldo yang menjauh beberapa langkah.
“Mas…?” panggilnya pelan.
Nada suaranya rapuh, nyaris tidak terdengar.
Ia ingin bertanya banyak hal.
Apakah semalam nyata?
Apakah pelukan itu tulus?
Apakah setelah ini mereka akan benar-benar menjadi suami istri… bukan sekadar dua orang yang tinggal dalam rumah yang sama?
Namun pertanyaan-pertanyaan itu tertahan di tenggorokan.
Karena sikap Aldo pagi ini terasa seperti jawaban yang tak ingin ia dengar.
Untuk pertama kalinya, rasa sakit di tubuhnya kalah oleh sesuatu yang lebih perih.
Harapan yang tumbuh semalam,
mulai layu sebelum benar-benar sempat berbunga.
---------
Aldo akhirnya berbalik.
Tatapannya datar.
“Kamu bersih-bersih dulu. Rapikan diri. Kita turun makan,” ucapnya singkat, tanpa menatapnya lama.
Ririn terdiam sesaat.
Nada itu bukan nada pria yang baru saja melewati malam pertama bersama istrinya. Tidak ada canda, tidak ada sentuhan ringan, bahkan tidak ada sekadar senyum tipis.
Ia mengangguk pelan. “Iya, Mas.”
Saat turun dari tempat tidur, tubuhnya kembali mengingatkan apa yang telah terjadi. Ia meringis kecil, menahan perih, namun mencoba tetap tersenyum pada dirinya sendiri.
Ini wajar, hiburnya dalam hati. Semua pasangan juga pasti melewati ini.
Ia masuk ke kamar mandi, membersihkan diri lebih lama dari biasanya. Berusaha menghapus rasa tidak nyaman, sekaligus menyisakan kenangan manis yang ia yakini semalam nyata.
Ketika mereka akhirnya turun ke restoran hotel, suasana terasa… asing.
Restoran itu indah. Lampu gantung kristal berkilau lembut. Meja-meja tertata rapi. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara pagi.
Beberapa pasangan lain tampak tertawa pelan, saling menyuapi, berbagi cerita.
Ririn mencuri pandang ke arah Aldo.
Ia duduk tegak, sibuk dengan ponselnya. Sesekali menjawab pesan, tanpa benar-benar memperhatikan perempuan di hadapannya.
“Mas, mau aku ambilkan kopi?” tanya Ririn hati-hati.
“Enggak usah,” jawab Aldo pendek.
Percakapan berhenti di situ.
Sendok dan garpu beradu dengan piring terdengar terlalu nyaring di antara keheningan mereka.
Ririn mencoba tersenyum. “Tempatnya bagus ya, Mas. Masih dua hari kita di sini, kita bisa berjalan…”
Aldo mengangkat wajahnya, menatap sekilas.
“Kita pulang hari ini,” katanya datar.
Ririn tertegun. “Hari ini? Tapi… paketnya kan tiga hari dua malam, Mas. Sudah termasuk dari pernikahan kita. Kalau kita pulang sekarang, sayang sekali…”
Belum selesai ia berbicara, Aldo meletakkan sendoknya agak keras.
“Apa sih yang mau disayangkan?” nada suaranya mulai meninggi. “Kamu pikir aku enggak punya kerjaan? Enggak punya urusan lain selain duduk-duduk di hotel?”
Beberapa kepala menoleh.
Wajah Ririn memucat.
“Aku cuma berpikir… ini kan kesempatan sekali seumur hidup, Mas…”
“Kesempatan apanya?” potong Aldo tajam. “Kamu pikir hidup itu cuma soal romantis-romantisan kayak di drama?”
Kata-kata itu seperti tamparan.
Ririn menunduk, jemarinya mencengkeram ujung taplak meja.
“Aku cuma… ingin kita lebih lama bersama,” suaranya melemah.
Aldo mendengus.
“Jangan lebay, Ririn. Semalam juga sudah cukup, kan?” ucapnya dengan nada yang membuat d**a Ririn terasa sesak.
Cukup.
Hanya itu?
Semalam yang baginya terasa seperti awal baru, bagi Aldo hanya sesuatu yang harus diselesaikan.
Air mata hampir jatuh, tapi ia menahannya.
Ia tidak ingin menjadi tontonan.
Ia tidak ingin terlihat menyedihkan.
Namun di dalam hatinya, sesuatu benar-benar runtuh.
Hotel yang semalam terasa seperti awal kebahagiaan, pagi ini berubah menjadi tempat yang terlalu cepat mengusirnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Ririn mulai bertanya dalam diam,
apakah semalam memang tentang cinta…
atau hanya kewajiban yang harus segera diselesaikan.
Atau…
jangan-jangan hanya nafsu sesaat.
Terjadi begitu saja karena suasana.
Karena kamar yang sunyi.
Karena mereka hanya berdua di ruang yang terlalu pribadi.
Pikirannya membuat dadanya sesak.
Jika itu hanya dorongan sesaat, lalu apa arti pelukan yang ia rasakan begitu hangat? Apa arti detik-detik sebelum ia tertidur dengan hati yang tenang?
Apakah semuanya hanya ilusi yang ia ciptakan sendiri?
Ririn menunduk, memaksakan senyum tipis agar tidak terlihat rapuh.
Namun di dalam hatinya, pertanyaan itu terus bergema
jika bukan cinta,
lalu apa sebenarnya yang ia miliki sebagai seorang istri?
--------
“Tuan Gerald, ada yang ingin kulaporkan,” ujar Toni, suara pria itu terdengar tegas namun tetap berhati-hati. Ia memang bukan sekadar bodyguard, tapi juga orang yang kerap Gerald percayakan untuk menyelidiki banyak hal.
Gerald tidak menoleh. Ia masih berdiri menghadap jendela kantornya.
“Katakan.”
“Pagi ini, setelah dari restoran hotel, mereka langsung kembali ke rumah. Padahal paket menginapnya tiga hari.”
Gerald perlahan memutar kursinya.
Tatapannya tajam. “Langsung pulang?”
“Iya, Tuan. Tidak sampai setengah hari.”
Sunyi sejenak memenuhi ruangan.
Jari Gerald mengetuk pelan permukaan meja.
Tiga hari dua malam.
Itu seharusnya cukup waktu bagi pasangan pengantin baru untuk… saling mengikat lebih dalam.
Atau setidaknya, bagi Aldo untuk benar-benar merasa memiliki.
Namun ia justru memilih pulang.
Bibir Gerald melengkung tipis.
“Bagaimana keadaan mereka?” tanyanya datar, seolah tidak terlalu peduli.
Toni menghela napas kecil sebelum menjawab.
“Nyonya Ririn terlihat pucat. Tuan Aldo… tidak banyak bicara.”
Rahang Gerald menegang tanpa ia sadari.
Pucat.
Tidak banyak bicara.
Sesuatu dalam dadanya terasa ganjil-bukan lega, bukan pula sepenuhnya puas.
Ia membayangkan pagi itu.
Ririn bangun dengan harapan.
Dan Aldo menghancurkannya.
Entah mengapa, pikiran itu tidak membuatnya bersorak menang.
Justru ada rasa panas yang merambat pelan.
Apakah Aldo menyesal?
Atau lebih buruk...
apakah Aldo memperlakukannya dengan dingin setelah semua yang terjadi?
Gerald berdiri.
“Awasi terus,” ucapnya singkat.
“Baik, Tuan.”
Toni melangkah mundur dan keluar dari ruangan.
Kini tinggal Gerald seorang diri.
Ia menyandarkan tubuhnya pada meja.
Mereka pulang lebih cepat.
Artinya sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Dan untuk alasan yang tidak ingin ia akui,
ia ingin tahu.
Bukan karena dendam.
Bukan lagi.
Melainkan karena sejak semalam, ia sadar-
ia tidak suka jika Ririn tersakiti oleh pria lain.
Juga tidak suka Ririn disentuh pria lain,
Bahkan jika pria itu adalah suaminya sendiri!
Bersambung..........