Beberapa detik setelah kata-kata Lila tadi, suasana di telepon menjadi hening. Aldo tidak langsung menutup pembicaraan. Entah kenapa, setiap berbicara dengan Lila selalu membuat pikirannya terasa lebih ringan. Berbeda dengan saat ia berada di rumah. Setiap melihat Ririn, yang muncul justru rasa kesal yang sulit dijelaskan. Selalu merasa kehadiran Ririn membelenggunya. Aldo menghela napas panjang. “Lila…” “Hm?” Suara perempuan itu tetap lembut seperti biasa. Aldo sempat ragu beberapa detik, tetapi akhirnya ia tetap mengatakannya. “Kalau… suatu hari aku bercerai dengan Ririn…” Kalimatnya menggantung. Lila tidak menyela. Ia hanya menunggu dengan sabar. “…apa kamu mau menjadi kekasihku?” Di ujung sana, Lila membeku sesaat. Namun hanya sesaat. Matanya justru menyipit tipis, semen

