Ririn tanpa sadar mundur setengah langkah. Tatapan Gerald yang terlalu lama membuat tengkuknya terasa dingin. Perasaan tidak nyaman itu kembali muncul, sama seperti dulu ketika mereka masih kuliah. Senyum tipis pria itu masih sama-tenang, percaya diri, dan entah kenapa selalu membuat Ririn merasa sedang dipandang seperti sesuatu yang tidak ia sukai. Ia segera memalingkan wajah. Ririn benar-benar tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Gerald akhirnya berbicara. “Kalian masih berhubungan sampai sekarang?” Pertanyaan itu diarahkan pada Lila. Suaranya tenang, bahkan terdengar santai. Namun tatapannya tetap tertuju pada Ririn, seolah jawaban Lila bukanlah hal yang paling ia tunggu. Lila langsung menegang. “Iya, Tuan,” jawabnya cepat. “Kami m

