Mata Ririn terbuka perlahan. Cahaya langsung menusuk. Pandangan itu masih samar. Namun hanya butuh satu detik, untuk semuanya runtuh. Napasnya terhenti. Tubuhnya membeku. Wajah di hadapannya… bukan Aldo. Melainkan, Gerald. Pria yang paling ia hindari sejak dulu. Beberapa detik, Ririn hanya menatap. Tidak bergerak. Seolah otaknya menolak menerima apa yang dilihatnya. “Ma… Mas…?” Suara itu keluar begitu saja. Refleks. Penuh kebingungan. Penuh penolakan. Namun tidak ada jawaban. Tidak ada Aldo. Tidak ada siapa pun, selain pria di depannya. Gerald. Ririn langsung tersentak mundur. Tangannya menekan kasur. Napasnya mulai tidak teratur. “Kenapa…?” bisiknya gemetar. “Kenapa… Anda di sini…?” Matanya bergerak cepat ke sekitar. Mencari. Mencari seseorang yang seharu

